JAKARTA, AKURATNEWS.co – Senyum para guru SD Mahatma Gandhi School mengembang di Jumat (28/11) pagi.

Mereka dengan semangat melangkah memasuki aula sekolah dengan balutan busana rancangan desainer Nina Nugroho, busana yang menjadi seragam khusus simbol penghormatan dalam perayaan Hari Guru Nasional ke-80.

Di sekolah yang dikenal dengan budaya akademik yang kuat dan iklim belajar positif ini, Hari Guru bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum apresiasi, kolaborasi, dan refleksi antara guru, siswa, dan orang tua.

Kepala Sekolah SD Mahatma Gandhi, Nonie Oley tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat menyaksikan persiapan acara yang sepenuhnya digagas orang tua murid melalui komite sekolah.

“Hari ini kami sangat berbahagia karena bisa merayakan Hari Guru dengan cara yang begitu bermakna. Semua acara disiapkan oleh komite sekolah, dan itu menunjukkan betapa kuatnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua,” ujar Nonie.

Di panggung, rangkaian sendiri acara mulai dari gerak dan lagu siswa kelas 1–6, penampilan polisi cilik, hingga drama bertema penghormatan kepada guru disiapkan untuk memberi kejutan kepada para pendidik.

Dalam kesempatan itu, Nonie juga menekankan bahwa hubungan guru dan murid di Mahatma Gandhi School terbangun melalui komunikasi yang baik, pelatihan guru yang berkelanjutan, serta budaya disiplin tanpa kekerasan.

“Sekarang isu bullying sering muncul. Tapi di sini, komunikasi dan pendampingan kepada guru dan orang tua sangat kami jaga. Setiap masalah bisa kami selesaikan bersama, karena kami mendidik dengan ketulusan,” tegasnya.

Di balik acara yang meriah ini, ada kerja panjang Komite Sekolah SD Mahatma Gandhi School. Ketua Komite, Dhiti Prabawa, menjelaskan, perayaan Hari Guru ini dirancang sejak awal tahun melalui anggaran iuran orang tua dan bukan dari dana sekolah.

“Ini bentuk apresiasi kami kepada para guru. Mereka pahlawan yang selalu menyalakan cahaya bagi anak-anak kami. Karena itu, acara ini benar-benar dari orang tua untuk para guru,” jelas Dhiti.

Salah satu gagasan komite sekolah adalah 49 busana rancangan Nina Nugroho bagi seluruh guru.

Dhiti mengaku sempat ragu ketika menghubungi sang desainer karena khawatir terkendala waktu dan biaya.

“Tapi beliau justru sangat antusias. Kami bersyukur desainnya sangat indah dan penuh makna,” katanya.

Dhiti menegaskan bahwa hubungan orang tua dan sekolah berjalan harmonis karena komunikasi selalu dibuka.

“Kadang masalah muncul hanya karena miskomunikasi. Tapi ketika duduk bersama, semuanya bisa diselesaikan,” ujarnya.

Di kesempatan itu, Koordinator Akademik SD Mahatma Gandhi, Vrushalee Kanago melihat busana karya Nina Nugroho bukan sekadar seragam, tetapi medium komunikasi visual yang memperkuat karakter guru.

“Busana itu meningkatkan otoritas dan profesionalisme. Murid-murid masa kini sangat visual. Apa yang mereka lihat memengaruhi persepsi mereka tentang guru dan sekolah,” jelasnya.

Vrushalee menambahkan, desain warna navy yang tegas, dipadukan motif bunga bernuansa lembut, menggambarkan dua hal yang harus dimiliki guru: wibawa dan kehangatan.

“Ada ketegasan, tapi juga kasih sayang. Itulah filosofi seorang guru,” ujarnya.

Ia juga menilai Mahatma Gandhi School berhasil membangun budaya kerja sama yang harmonis antara sekolah, guru, komite, hingga desainer. Sebuah kerja kolaboratif yang jarang ditemui di sekolah lain.

Sang desainer Nina Nugroho menjelaskan, filosofi busana yang dirancangnya lewat warna navy dipilih karena mencerminkan otoritas dan profesionalisme, sementara motif bunga melambangkan pertumbuhan, keindahan, dan kesabaran seorang guru.

“Busana ini kami rancang agar guru tampil berwibawa, tapi tetap lembut. Itu penting untuk memfasilitasi komunikasi antara guru, murid, dan orang tua,” ujarnya.

Persiapan seragam ini dimulai sejak 22 Oktober, dimulai dari pengenalan desainer hingga pengukuran seluruh guru. Setelah proses produksi selesai, barulah acara Hari Guru digelar.

“Ini bukan acara mendadak. Semua sudah disiapkan dengan matang agar Hari Guru tahun ini benar-benar berkesan,” kata Dhiti.

Mahatma Gandhi School sendiri percaya bahwa guru yang dihargai dan didukung akan membentuk lingkungan belajar yang lebih sehat.

“Rata-rata anak-anak sangat bahagia sekolah di sini. Mereka punya banyak kegiatan, akademik dan non-akademik, dan guru-guru kami sangat profesional,” kata Nonie Oley.

Perayaan Hari Guru tahun ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi cerminan dari ekosistem pendidikan yang hidup: sekolah, guru, orang tua, dan siswa yang semuanya bergerak bersama. (NVR)

By editor2