Oleh: Dr. Anggawira
JAKARTA, AKURATNEWS.co  – Sekretaris Jenderal BPP HIPMI / Ketua Umum ASPEBINDOJAKARTA Tahun 1945 menjadi momentum bersejarah bagi dua bangsa Asia: Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus, sementara Korea Selatan berdiri merdeka pada 15 Agustus.

Titik berangkat yang hampir bersamaan sering menjadi bahan perbandingan: mengapa perjalanan pembangunan kedua negara berbeda begitu jauh?

Kini, delapan dekade setelah kemerdekaan, Korea Selatan telah menjelma menjadi negara maju dengan PDB per kapita lebih dari US$ 30.000, industri manufaktur yang kuat, dan posisi global sebagai pemimpin teknologi.

Sementara Indonesia masih berada di level negara berpendapatan menengah, dengan PDB per kapita sekitar US$ 5.600. Perbedaan ini bukan untuk mengecilkan capaian bangsa, tetapi untuk dijadikan cermin agar kita mampu belajar dari strategi pembangunan Korea Selatan.

Resep Keberhasilan Korea Selatan

Pertama, investasi besar di pendidikan dan SDM. Korea Selatan pasca perang memprioritaskan pembangunan manusia. Anggaran pendidikan ditingkatkan secara agresif, dan hasilnya, pada 1970-an tingkat literasi hampir 100%.

Kedua, industrial policy yang konsisten. Pemerintah Korsel sejak 1960-an menjalankan strategi export-oriented industrialization. Negara mendukung chaebol seperti Samsung, Hyundai, dan LG dengan insentif, kredit, dan proteksi, tetapi tetap memberi target ekspor yang ketat.

Ketiga, teknologi dan R&D sebagai prioritas. Saat pendapatan meningkat, pemerintah mendorong riset dan inovasi. Hingga kini, Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan belanja riset terbesar di dunia, yaitu lebih dari 4,5% PDB, jauh di atas Indonesia yang masih sekitar 0,2% PDB.

Keempat, keteguhan tata kelola & meritokrasi. Meski tidak bebas dari krisis politik, Korea Selatan konsisten memperkuat meritokrasi birokrasi dan disiplin hukum. Aparatur profesional dan target pembangunan yang jelas menjadi kunci percepatan industrialisasi.

Rekomendasi untuk Indonesia

Belajar dari pengalaman Korea Selatan, ada beberapa rekomendasi faktual:
1. Revolusi Pendidikan Vokasi & STEM
Indonesia harus menekankan pendidikan berbasis keterampilan industri. Saat ini hanya sekitar 25% tenaga kerja kita yang terampil, jauh tertinggal dibanding Korsel yang sejak 1980-an membangun politeknik dan universitas teknologi.
2. Fokus pada Industri Unggulan
Indonesia perlu memilih sektor prioritas, misalnya:
• Baterai & kendaraan listrik, memanfaatkan cadangan nikel terbesar dunia.
• Industri maritim, menjadikan Indonesia pusat logistik Asia Tenggara.
• Industri pertahanan, seperti kolaborasi RI–Korsel dalam proyek KF-21 Boramae.
3. Dorong R&D dengan Skema Insentif
Belanja riset nasional harus ditingkatkan bertahap menuju minimal 1% PDB, melalui tax deduction bagi perusahaan yang berinvestasi dalam riset.
4. Digitalisasi & Teknologi Lokal
Indonesia harus melahirkan deep tech startup agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen teknologi.
5. Konsistensi Kebijakan
Perlu peta jalan industrialisasi jangka panjang lintas rezim dengan target jelas, indikator capaian, dan dukungan institusional.
6. Perbaikan Tata Kelola & Kepastian Hukum
Reformasi regulasi, pemberantasan korupsi, dan penegakan kontrak adalah prasyarat agar investor global percaya.

Penutup

Korea Selatan membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya alam bukan halangan untuk menjadi negara maju. Mereka mengandalkan disiplin, inovasi, dan konsistensi kebijakan. Indonesia, dengan bonus demografi, kekayaan alam, dan pasar domestik besar, punya modal lebih dari cukup.

Momentum 80 tahun kemerdekaan harus menjadi titik balik untuk keluar dari middle income trap. Dengan meniru ketekunan Korsel dan menyesuaikan strategi dengan keunggulan nasional, Indonesia bisa berlari mengejar ketertinggalan.

Sejarah sudah membuktikan: kita merdeka bersama, tapi masa depan ditentukan oleh keberanian pilihan kita hari ini./Ib.

By Editor1