JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di balik lalu lintas kapal-kapal raksasa yang menyusuri samudra luas, terselip kisah para pelaut Indonesia yang menjadi tulang punggung arus perdagangan global.

Tak banyak yang tahu, lebih dari 90 persen barang dagangan dunia bergantung pada peran mereka. Diam-diam, para pelaut ini menjaga stabilitas ekonomi, menopang rantai pasok, dan menyumbangkan denyut bagi pembangunan nasional.

Namun, di balik kontribusi yang krusial itu, para pelaut juga menghadapi tantangan yang kerap luput dari sorotan: pelecehan verbal, psikologis, bahkan fisik, yang masih menghantui keseharian mereka di atas kapal.

Tahun ini, Hari Pelaut Sedunia yang jatuh pada 25 Juni mendatang, mengambil tema yang menyentuh akar persoalan itu: “My Harassment-Free Ship”.

Tema yang diusung International Maritime Organization (IMO) ini bukan sekadar slogan, tetapi seruan untuk mewujudkan lingkungan kerja di laut yang lebih manusiawi, bebas dari kekerasan dan diskriminasi.

Bagi para pelaut Indonesia, tema ini menjadi panggilan untuk bersatu, menyuarakan pentingnya martabat dan perlindungan bagi profesi yang kerap terpinggirkan ini.

Sebuah kepanitiaan lintas almamater pun dibentuk, dengan Harry Buana Putra dari CAAIP angkatan 42 sebagai ketua.

“Kami ingin menjadikan Hari Pelaut Sedunia sebagai momentum penting. Bukan hanya sebagai perayaan, tapi juga perenungan dan perjuangan,” ujar Harry dalam pertemuan kepanitiaan yang digelar di Jakarta, (5/5) lalu.

Harry sendiri dikenal sebagai sosok pelaut berdedikasi yang kini mewakili pelaut asal Jawa Barat, wilayah yang selama ini menyumbang tenaga pelaut ke berbagai wilayah kerja di lautan domestik maupun internasional.

Kepanitiaan yang dibentuk secara mufakat ini melibatkan para tokoh maritim nasional, seperti Capt. Andi M. Pakpahan dari KAP3B/PIP Semarang angkatan 41 sebagai wakil ketua, Ketua Umum CAAIP Iko Johansyah, Max Ranov (KAP3B Semarang), Bambang Irawan (AKMI Cirebon), hingga Slamet Purwanto (AKPELNI Semarang).

Tak ketinggalan, hadir pula Capt. Gandha Febriansyah dari CAAIP Pertamina yang juga menjabat Ketua Umum Serikat Pekerja Pertamina International Shipping.

Ia menyampaikan bahwa kesejahteraan pelaut tidak hanya soal gaji dan keselamatan kerja, tetapi juga tentang rasa aman dari intimidasi dan perlakuan tak layak.

Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat solidaritas, mereka menyatukan visi: menjadikan Hari Pelaut Sedunia bukan hanya sebagai simbol, tetapi tonggak perubahan.

Pelaut Indonesia tidak hanya mengangkut komoditas dari pelabuhan ke pelabuhan. Mereka juga membawa misi mulia: menjadi wajah bangsa di dunia internasional, agen diplomasi maritim, dan bagian dari kekuatan ekonomi nasional.

Ke depan, melalui tema My Harassment-Free Ship”, para pelaut berharap agar pemerintah, institusi pendidikan pelayaran, perusahaan pelayaran, serta masyarakat luas bisa bahu-membahu menciptakan ekosistem kerja yang sehat di lautan.

Sebuah dunia maritim yang tidak hanya tangguh secara ekonomi, tetapi juga berkeadaban.

Hari Pelaut Sedunia 2025 bukan semata seremoni. Ini adalah panggung di mana suara pelaut Indonesia bergema, menuntut penghargaan atas profesi mereka, dan menegaskan bahwa kapal, sekecil atau sebesar apa pun harus menjadi tempat yang aman bagi semua yang berlayar.

Dan dari laut yang luas, suara itu kini mulai menggema ke daratan. (NVR)

By editor2