JAKARTA, AKURATNEWS.co – Suasana hangat terasa di halaman Panti Sosial Bina Netra dan Rungu Wicara (PSBNRW) Cahaya Batin, Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/5).
Riuh tawa dan gerak senam mengawali rangkaian kegiatan memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang kali ini terasa istimewa.
Bukan hanya karena semangat belajar, tapi juga karena komitmen untuk menjadikan pendidikan lebih inklusif bagi semua, termasuk bagi para penyandang difabel netra dan rungu wicara.
PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya, bekerja sama dengan PSBNRW Cahaya Batin, menghadirkan semangat baru lewat pelatihan dan kegiatan interaktif untuk 60 anak panti.
Tak hanya sekadar memperingati hari besar, acara ini menjadi ruang belajar dan berbagi yang sesungguhnya, dengan pelatihan pembuatan telur asin dan pengenalan bahasa isyarat sebagai menu utama.
“Senamnya seru, tapi yang paling saya suka belajar bikin telur asin. Rasanya seperti punya keterampilan baru,” ujar seorang peserta dengan senyum lebar, sambil memegang hasil telur asin buatannya sendiri.
General Manager PLN UID Jakarta Raya, Moch. Andy Adchaminoerdin, menuturkan, kegiatan ini adalah bentuk nyata dari komitmen PLN untuk menjangkau semua lapisan masyarakat, khususnya mereka yang seringkali luput dari perhatian arus utama pendidikan.
“Pendidikan adalah hak semua anak bangsa, tanpa kecuali. Melalui kegiatan ini, kami ingin ikut mendorong agar anak-anak difabel juga punya akses dan kesempatan untuk berkembang,” ujar Andy.
Tak hanya PLN yang merasa terdorong, pihak PSBNRW Cahaya Batin pun turut mengapresiasi kolaborasi ini. Ketua PSBNRW, Ucu Rahayu Lesmanawati, menyebut kegiatan seperti ini memberi dampak langsung terhadap rasa percaya diri anak-anak panti.
“Setiap kegiatan yang membuka peluang belajar keterampilan baru akan berdampak besar bagi mereka. Kami sangat berterima kasih karena PLN bukan hanya hadir, tapi juga benar-benar ikut berproses bersama anak-anak,” katanya.
Beny Indra Praja, Manager PLN UP3 Kramat Jati, menambahkan, inisiatif ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk mendorong kesejahteraan dan inklusi.
“Ini bukan tentang satu hari perayaan, tapi tentang bagaimana kita semua, sebagai masyarakat, punya peran untuk menciptakan ruang tumbuh yang adil bagi siapa pun,” ujar Beny.
Kegiatan ini memang sederhana, namun dampaknya tidak bisa disepelekan. Dari sebuah panti kecil di Cawang, semangat pendidikan yang inklusif digaungkan dengan harapan kelak anak-anak difabel tak hanya sekadar bertahan, tapi juga tumbuh dan berkarya. (NVR)
