JAKARTA, AKURATNEWS – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online dengan tema yang diangkat Webinar: “Promosi Seni & Budaya di Era Digital”. Seminar ini diselenggarakan pada hari Jumat, 14 April 2023 melalui platform zoom meeting.
Dalam seminar tersebut terdapat tiga pembicara yang mumpuni pada bidangnya, yaitu Bapak Dr. Fadli Zon yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI. Narasumber kedua adalah Bapak Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc. menjabat sebagai Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Kominfo RI, serta mengundang Bapak Basuki Yuwono, Selaku Akademisi dan Budayawan dan Bapak Esha Tegar Putra. Selaku Sastrawan.
Seminar ini merupakan dukungan Kominfo terhadap Program Webinar yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Webinar tersebut memiliki beberapa tujuan di antaranya adalah untuk mendorong masyarakat dalam mempromosikan seni dan budaya nasional agar lebih dikenal oleh masyarakat luas hingga mancanegara menggunakan platform media digital seperti dengan berbagai macam platform sosial. Pemerintah khususnya oleh Dirjen APTIKA Kementerian Kominfo; mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya.
Baca artikel lainnya: Bawang Putih Naik Terus, Permainan Kuota Impor Pun Jalan Terus?
Sesi paparan diawali oleh sambutan dari Dr. Fadli Zon selaku Anggota Komisi I DPR RI. Dalam paparanya mengatakan bahwa;
“Seni dan budaya yang dimaksud saat ini adalah ekspresi seni dan budaya, yaitu hasil hasil karya budaya dengan berbagai bentuknya, yang sudah merupakan karya baik itu sastra, seni rupa, kriya, musik, dan lain lain. Hal ini sangat penting untuk menjadi bagian bagi kehadiran kita di dunia global, bagaimana seni dan budaya kita ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Indonesia tapi juga dunia. Kita juga sebenarnya memiliki banyak potensi di bidang seni dan budaya, karena ekspresi itu lahir dari banyak kelompok suku, etnis yang sangat beragam yang terdiri dari lebih darai 700 etnis yang tentunya menghasilkan budaya yang berbeda-beda. Potensi itu sangatalah besar dan tidak terbatas ruang untuk kreatifitasnya,” papar Fadli Zon.
Pemaparan kedua disampaikan oleh Semuel Abrijani Pangerapan melalui tampilan video. Dalam video tersebut beliau menjelaskan bahwa;
“Pesatnya perkembangan teknologi yang semakin maju dengan adanya panedemic covid-19 telah mendorong kita untuk berinteraksi dan melakuakan berbagai aktivitas melalui platform digital, kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat inilah yang semakin mempertegas bahwa kita berada di era percepatan trasnformasi digital. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang baik masyarakat dengan pemerintah agar masyarakat tidak tertinggal dalam proses percepatan transformasi digital,” papar Semuel.
Baca artikel lainnya: Penuh Ketegangan dan Dendam, ‘Khanzab’ Siap Ramaikan Lebaran 2023
Pemaparan ketiga disampaikan oleh Basuki Yuwono selaku Akademisi dan Budayawan. Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa;
“Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, seni dan budaya terus tumbuh dan berkembang. Baik berupa seni tradisi ataupun penciptaan baru. Terwadahi dalam UU No.5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, dikenal dengan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Pemanfaatan tidak semata dalam ranah ekonomi. Pemanfaatan perlu tata kelola yang tepat agar semua pihak mendapatkan kebermanfaatan secara propursional.
Selanjutnya basuki menambahkan,” Dalam ruang terbuka saat ini memungkinkan semua pihak dapar menjadi bagian pemanfaatan, baik industri kecil hingga industri besar, sehingga perlu mendudukkan masyarakat pemilik secara proporsional. Media digital memiliki banyak sekali peran penting dan efektif, di antaranya; Ruang edukasi yang terbuka Ruang inspirasi dan dokumentasi yang cair, Ruang penciptaan yang terbuka, Ruang pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan yang lebih luas dan Mempermudahkan promosi secara meluas dan terbuka,” tambahnya.
Pemaparan terakhir disampaikan oleh Esha Tegar Putra, dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa;
“Literasi digital itu merupakan kecakapan digital dan pengetahuan dalam pemanfaatan media digital yang berupa komunikasi dan internet, pengetahuan ini sangat penting sekali bagi masyarakat dan pengguna digital sebagai bekal untuk memahami fungsi positif dari jejaring komunikasi dan media internet. Terdapat 4 pilar literasi digital yaitu yang pertama adalah etika digital, yang kedua adalah budaya digital yaitu, yang ketiga adalah, dan yang terakhir yaitu keamanan digital,” papar Esha Tegar,
Baca artikel lainnya: HI Annual Report 2022 Kuatkan Akuntabilitas di Tengah Tantangan Kemanusiaan
Lebih lanjut Esha Tegar menambahkan, ” Promosi seni dan budaya pada saat ini tentunya sangat berbeda dengan promosi seni budaya di beberapa decade ke belakang. Promosi seni dan budaya secara tidak langsung juga memuat bagian dari pengetahuan dari 4 Pilar Literasi Digital, baik dari perspektif orang yang membuat promosi, muatan materi promosi, hingga sasaran dari promosi. Hari ini promosi seni dan budaya sudah jauh menggunakan beragam ide dan kreatifitas untuk membuat masyarakat tertarik untuk mengetahui produk budaya yang sedang dipromosikan,” tambah Esha tegar./Ib
