JAKARTA, AKURATNEWS.co – Berpuasa di bulan ramadhan memang cukup berat, karena harus dijalani selama sebulan penuh. Tetapi jika dilandasi dengan niat dan keimanan yang kuat, semua akan menjadi terasa ringan, sebab pahala, rahmat dan ampunan semua berlipat ganda di bulan ramadhan.
Meski terasa cukup berat, namun kita tetap harus menjalankan aktifitas sehari-hari, seperti bekerja mencarinafkah dan lain-lain. Jadi berpuasa tidaklah menjadi aasan untuk bermalas-malasan, rebahan atau tiduran saja, meskipun tidurnya orang berpuasa juga merupakan ibadah.
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ
Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.
Namun para ulama menjelaskan: ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan. Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa justru termasuk adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di⁵ siang hari.
Dalam Ihya Ulum al-Din (juz 1, hlm. 246), beliau menulis:
بَلْ مِنَ الآدَابِ أَنْ لَا يُكْثِرَ النَّوْمَ بِالنَّهَارِ حَتَّى يَحُسَّ بِالْجُوعِ وَالْعَطَشِ وَيَسْتَشْعِرَ ضُعْفَ الْقُوَّةِ فَيَصْفُوَ عِنْدَ ذَلِكَ قَلْبُهُ
Di antara adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari, agar ia merasakan lapar dan haus serta merasakan lemahnya kekuatan, sehingga hatinya menjadi jernih.
Lalu bagaimana maksud “tidurnya orang puasa adalah ibadah”? Syekh źam Ittihaf Sadat al-Muttaqin (juz 5, hlm. 574) menjelaskan:
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَنَفَسُهُ تَسْبِيحٌ وَصُمْتُهُ حِكْمَةٌ … وَلَكِنْ كُلُّ مَا يُسْتَعَانُ بِهِ عَلَى الْعِبَادَةِ يَكُونُ عِبَادَةً
Tidurnya orang puasa adalah ibadah, meskipun tidur itu hakikatnya kelalaian. Namun segala sesuatu yang membantu terlaksananya ibadah, maka itu juga bernilai ibadah./Ib.
