JAKARTA, AKURATNEWS.co – Pabrikan otomotif asal Italia Ferrari, resmi meluncurkan mobil listrik pertama mereka, Luce. Kehadiran mobil listrik itu cukup mengejutkan karena pada saat yang sama, merek-merek mobil sport lainnya justru enggan untuk nyemplung ke bisnis electric vehicle.
Ambil contoh Lamborghini yang secara terbuka justru menyatakan bahwa hampir tidak ada pasar untuk supercar murni bertenaga listrik. Begitu juga dengan McLaren yang jauh-jauh hari sudah berjanji tidak tergoda mengganti mesin buatan mereka dengan baterai.
Ferarri meyakini langkah berani ini diambil di tengah posisi finansial Ferrari yang sangat kuat, di mana nilai pasar perusahaan publik ini bahkan mampu melampaui total aset gabungan grup raksasa Jerman, Volkswagen Group, yang membawahi Lamborghini.
Baca Juga: Honda Luncurkan Mobil Listrik Super One
Meskipun tetap melanjutkan proyek Luce, Ferrari tidak menutup mata pada dinamika pasar dengan memangkas sebagian ambisi elektrifikasinya.
Melansir CNBC, pabrikan berlogo kuda jingkrak tersebut sebelumnya bahkan mengumumkan hanya menargetkan komposisi EV sebesar 20 persen dari total penjualan mereka, memotong setengah dari target yang dicanangkan sebelumnya.
“Di saat yang saa Ferrari juga menegaskan akan terus memproduksi mobil bermesin pembakaran internal (ICE), termasuk mempertahankan mesin 12-silinder (V12) mereka yang legendaris,” tulisnya.
Sejumlah analis otomotif menilai bahwa apa yang membuat sebuah Ferrari atau Lamborghini begitu menggairahkan adalah bagaimana mobil tersebut mampu merangsang seluruh indra pengendaranya, mulai dari desain visual yang eksotis, raungan suara knalpot, getaran mesin yang mekanis, hingga aroma khas dari gas buang.
Mobil listrik memang mampu berakselerasi dengan sangat instan dan luar biasa cepat, namun karakteristik magis dan jiwa dari sebuah supercar konvensional hilang begitu saja ketika mesin berganti baterai.
Baca Juga: Anak Musisi Deddy Dores Terkena Serangan Jantung
Perbedaan arah mata angin antara Ferrari dan Lamborghini ini juga tidak lepas dari struktur korporasi masing-masing perusahaan. Sebagai bagian dari Volkswagen Group yang masif, Lamborghini bisa tampil sangat spesifik dan tersegmentasi karena beban regulasi emisi grup besar bisa ditopang oleh merek massal lainnya.
Sebaliknya, Ferrari yang berdiri sendiri sebagai perusahaan independen dituntut untuk memiliki fleksibilitas produk yang lebih luas dan adaptif demi mengamankan masa depan bisnisnya di kancah global. Ini yang membuat Ferrari luwes dalam menjalankan strategi mereka, termasuk dalam membuat mobil listrik.
