JAKARTA, AKURATNEWS.co – Lampu-lampu di ballroom Lagoon The Sultan Hotel, Senayan berpendar lembut. Satu per satu tamu undangan memasuki ruangan dengan balutan busana terbaik mereka.
Di sudut kanan, wartawan film sibuk menyiapkan kamera, sementara di sisi panggung, terdengar orkestra memainkan nada lembut.
Di tengah sorotan lampu itu, Malam Penganugerahan Festival Film Wartawan (FFW) 2025 dimulai. Tapi malam itu bukan sekadar pesta penghargaan.
Ia adalah ruang pertemuan dua dunia: sineas dan wartawan, dua profesi yang sama-sama menulis realitas, satu dengan cahaya, satu dengan kata.
Ketika Menteri Kebudayaan, Fadli Zon naik ke panggung, suasana hening sejenak. Ia berbicara bukan sekadar tentang film, tapi tentang akar sejarah yang mengikat para wartawan dan pembuat film dalam satu garis perjuangan.
“Usmar Ismail adalah wartawan pejuang yang menjadikan film sebagai alat perjuangan, bukan sekadar hiburan,” ucap Fadli.
Dalam kalimat itu, terasa sebuah napas lama yang dihidupkan kembali, bahwa sinema Indonesia lahir bukan dari glamor, melainkan dari idealisme.
“Wartawan dan pekerja film sama-sama menulis realitas dan menggali nurani. Bedanya hanya medium. Keduanya sama-sama menyalakan imajinasi bangsa,” lanjutnya, disambut tepuk tangan panjang hadirin.
Ada satu momen yang membuat ruangan seolah berdenyut dengan makna simbolik. Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, hadir malam itu, duduk di barisan depan dengan senyum hangat.
Bagi Fadli Zon, kehadiran Ramos-Horta bukan sekadar kunjungan diplomatik, tapi bentuk solidaritas budaya.
“Kita berharap, ke depan ada kerja sama film antara Indonesia dan Timor Leste. Kita punya sejarah yang berbeda, tapi masa depan yang bisa diterangi bersama oleh karya seni,” ujarnya.
Senyum Ramos-Horta mengembang. Ia bertepuk tangan lama ketika Christine Hakim, legenda hidup perfilman Indonesia, naik ke panggung menerima Anugerah Pengabdian Seumur Hidup.
Ketika namanya disebut, Christine Hakim berdiri perlahan. Dalam balutan kebaya abu-abu muda, ia menatap ruangan penuh rasa syukur. Kamera televisi menyorot matanya yang berkaca-kaca.
“Film bagi saya bukan hanya pekerjaan. Ia adalah doa panjang, yang saya ucapkan lewat cerita,” kata legenda film nasional ini dengan suara lirih.
Ruangan itu kembali hening. Beberapa wartawan menunduk, mencatat kalimatnya dengan khidmat. Christine bukan hanya seorang aktris, tapi simbol keteguhan seorang perempuan Indonesia yang telah menjadi saksi sejarah sinema nasional selama lima dekade.
Sutradara Garin Nugroho kemudian maju ke panggung, membawa hadirin melintasi waktu. Ia mengisahkan bagaimana wartawan menjadi bagian pertama dari sejarah sinema Tanah Air.
“Tahun 1920, koran Sin Po menulis berita berjudul Ada Gambar Ajaib. Orang belum pernah melihat gambar berjalan. Film itu adalah Lutung Kasarung. Dari sana, semuanya bermula,” katanya.
Kisah Garin seperti menjembatani masa lalu dan masa kini, dari “gambar ajaib” ke deretan film digital yang kini bersaing di festival internasional.
Salah satu sorotan malam itu datang dari film :Santet Segoro Pitu’ yang menyapu banyak penghargaan di kategori horor, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Tommy Dewo.
Di sisi lain, Kristo Immanuel mencatat sejarah baru dengan kemenangannya sebagai Sutradara Terbaik di genre komedi lewat ‘Tinggal Meninggal’, sekaligus menulis skenarionya bersama Jessica Tjiu.
Sementara di ranah drama, Yandy Laurens lewat ‘Sore: Istri Dari Masa Depan’ membawa pulang tiga piala, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Film ini dianggap berhasil menuturkan kisah intim manusia modern dengan sensitivitas tinggi.
Dan tentu saja, Christine Hakim dan Ipik Tanoyo menerima penghargaan tertinggi malam itu: Anugerah Pengabdian Seumur Hidup untuk bidang film dan pers.
Dan ketika lampu panggung padam, cahaya itu tetap hidup dalam setiap cerita, dalam setiap berita, dalam setiap mimpi tentang Indonesia yang dituturkan lewat layar.
Berikut Deretan Pemenang FFW 2025:
Kategori Horor
Aktris Pendukung Terbaik: Dinda Kanyadewi (Kitab Sijjin & Illiyin)
Aktor Pendukung Terbaik: Tarra Budiman (Kitab Sijjin & Illiyin)
Aktris Utama Terbaik: Acha Septriasa (Qodrat 2)
Aktor Utama Terbaik: Fedi Nuril (Sukma)
Penulis Skenario Terbaik: Riheam Junianti (Santet Segoro Pitu)
Penyunting Gambar Terbaik: Febby Gozal & Sentot Sahid (Dendam Malam Kelam)
Penata Kamera Terbaik: Amalia TS (Santet Segoro Pitu)
Sutradara Terbaik: Tommy Dewo (Santet Segoro Pitu)
Film Terbaik: Santet Segoro Pitu
Kategori Komedi
Aktris Pendukung Terbaik: Asri Welas (Cocote Tonggo)
Aktor Pendukung Terbaik: Christoffer Nelwan (Jodoh 3 Bujang)
Aktris Utama Terbaik: Mawar de Jongh (Tinggal Meninggal)
Aktor Utama Terbaik: Omara Esteghlal (Tinggal Meninggal)
Penulis Skenario Terbaik: Kristo Immanuel & Jessica Tjiu (Tinggal Meninggal)
Penyunting Gambar Terbaik: Cesa David Luckmansyah & Apriady Fathullah Sikumbang (Modal Nekad)
Penata Kamera Terbaik: Edi Michael (Keluarga Super Irit)
Sutradara Terbaik: Kristo Immanuel (Tinggal Meninggal)
Film Terbaik: Tinggal Meninggal
Kategori Drama
Aktris Pendukung Terbaik: Lola Amaria (Gowok: Kamasutra Jawa)
Aktor Pendukung Terbaik: Boris Bokir (Panggil Aku Ayah)
Aktris Utama Terbaik: Sheila Dara Aisha (Sore: Istri Dari Masa Depan)
Aktor Utama Terbaik: Ringgo Agus Rahman (Panggil Aku Ayah)
Penulis Skenario Terbaik: Yandy Laurens (Sore: Istri Dari Masa Depan)
Penyunting Gambar Terbaik: Hendra Adhi Susanto (Sore: Istri Dari Masa Depan)
Penata Kamera Terbaik: Roy Lolang (Perang Kota)
Sutradara Terbaik: Yandy Laurens (Sore: Istri Dari Masa Depan)
Film Terbaik: Sore: Istri Dari Masa DepanFilm Anugerah Khusus Juri: Siapa Dia. (NVR)
