JAKARTA, AKURATNEWS.co – Satu bulan jelang pencoblosan, iklim politik makin panas dan pertarungan diprediksi semakin sengit. Hal ini sudah terlihat dari debat ketiga Pilpres 2024, Minggu (7/1). Gesekan antara ketiga paslon terlihat semakin jelas terlihat.

Mulai memanasnya gesekan antar paslon ini membuat pengamat Kebijakan Publik, Nur Iswan mengimbau semua paslon dan para pendukungnya menahan diri dengan menghindari penggunaan kata yang kasar atau kurang tepat.

Harapan dan permintaan itu, kata Nur Iswan, dalam rangka menjaga kondusivitas dan kesehatan berdemokrasi di tanah air.

“Diksi kata yang kasar seperti bodoh, goblok, bacot, dan bangsat hendaknya tidak dipergunakan. Terlebih lagi jangan sampai diucapkan oleh paslon atau tokoh dari semua kubu,” tegas Nur Iswan, Selasa (9/1)

Ia menyesalkan dan menyayangkan apabila ada paslon, tokoh pendukung atau timses yang tidak bisa menahan diri dan mengeluarkan kata tidak senonoh.

“Hati tidak boleh panas. Hati tidak boleh didikte oleh kejengkelan dan kemarahan yang berkepanjangan. Pikiran tetap harus jernih. Pemimpin kan harus bisa mengelola emosi dan perasaan,” kata alumni School of Public Policy and Administration, Carleton University ini.

Lebih lanjut Nur Iswan menyampaikan, semua paslon harus fokus merebut hati pemilih dengan cara menyampaikan rekam jejak, narasi atau gagasannya.

“Semua paslon kan pasti punya gagasan. Jangan malah menyerang dengan diksi kata yang kasar. Itu malah bisa menghilangkan respek dan simpati pemilih, bukan?” imbuhnya.

“Semua kan putra bangsa. Kompetisi politik memang kadang-kadang keras. Tapi pemimpin harus dingin, dewasa dan matang serta menjaga kesantunan dalam komunikasi publiknya,” imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan pengamat Public Relation, Muhammad Sufyan Abd. Dikatakannya, etika komunikasi publik yang tidak elok diperlihatkan Tim Capres nomor urut dua saat timses mereka menggeruduk moderator di debat ketiga Pilpres 2024, Minggu (7/1).

Sejak viral video timses Prabowo, yakni Grace Natalie dan Isyana, mendatangi moderator debat calon presiden dan calon wakil presiden ketiga yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Setelah Gibran memprovokasi di debat pertama, juga menanyakan singkatan tidak lazim pada debat kedua, semalam debat ketiga dihiasi gerudukan timses. Tentu dari sisi komunikasi publik, ini menyedihkan,” ujarnya, Senin (8/1).

Selain viral hal itu, juga viral video pendukung Prabowo memaki Anies dengan umpatan. Entah “Anies Bangsat” atau “Anies Bacot”, keduanya hal yang tak pantas ada di forum se-level debat resmi KPU.

Karena itu, Sufyan meminta KPU tak terus mentolerir hal ini. Teguran sudah diberikan tapi terus terjadi, sehingga publik dipertontonkan komunikasi publik niretik.

“Mau jadi apa generasi muda kita nanti kalau terus lihat ini. Gibran pun semalam dengar langsung KPU larang pertanyaan singkatan. Tapi kalau dibiarkan lagi, saya tidak yakin Gibran dan Tim 02 akan nurut di debat 4 dan 5,” tutupnya. (NVR)

By Editor1