JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di tengah gegap gempita jargon “ekonomi bangkit” pasca pandemi, ternyata tak semua warga merasa benar-benar pulih.

Data terbaru dari Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) justru menyingkap sisi lain yakni masyarakat kian sulit memperoleh pekerjaan. Di balik angka-angka indeks yang tampak positif, tersembunyi kekhawatiran yang makin membesar.

Soal ini, ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky membaca temuan ini sebagai sinyal peringatan.

“Masyarakat mungkin terlihat optimis secara umum, tetapi jika dilihat lebih dekat, mereka mulai realistis, bahkan pesimis, terutama soal ketersediaan lapangan kerja,” ujar Awalil di Jakarta, baru-baru ini.

BI merilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2025 sebesar 117,5. Sekilas, angka ini masih berada di zona optimis (di atas 100). Tapi jika ditelusuri, angka ini merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir. IKK ini turun dari 121,7 pada April 2025, dan juga lebih rendah dibanding Mei 2024 (125,2).

Awalil menyebut, tren penurunan ini patut diperhatikan serius, karena mencerminkan perubahan persepsi publik terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan.

“Dibanding enam bulan lalu, masyarakat mulai merasa ekonomi stagnan. Terlebih dalam hal pekerjaan,” kata Awalil.

Yang paling mencolok dari survei ini adalah turunnya indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini, yang kini berada di angka 95,7, artinya untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun, indikator ini masuk ke zona pesimis.

“Ini adalah alarm keras. Saat masyarakat merasa kesulitan mencari kerja, maka efek domino-nya ke pengeluaran dan pertumbuhan konsumsi bisa sangat besar,” jelas Awalil.

Padahal, dua komponen lain dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yaitu penghasilan saat ini dan pembelian barang tahan lama, masih berada di zona optimis. Namun tetap saja, IKE secara keseluruhan hanya berada di angka 106,0, juga yang terendah dalam tiga tahun terakhir.

“Kalau kita lihat, semua indikator melandai. Ini bukan tanda pemulihan yang kuat, tapi justru rawan koreksi ekonomi ke depan,” tambahnya.

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) memang masih kuat di angka 129,0, tapi lagi-lagi, ini adalah yang terendah dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut mencerminkan harapan, bukan kepastian.

“IEK biasanya selalu optimis karena mencerminkan harapan. Tapi sekarang, bahkan harapan itu mulai redup,” kata Awalil.

Salah satu komponen IEK, yakni prakiraan ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang, hanya naik sedikit dibanding April. Namun nilainya tetap menjadi yang terendah kedua sejak Oktober 2021.

Lalu, apa yang terjadi di lapangan?

Survei ini dilakukan kepada sekitar 4.600 rumah tangga di 18 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Makassar, hingga Ambon. Dengan metode Balance Score, Bank Indonesia mengukur selisih antara konsumen yang menjawab kondisi “meningkat” versus “menurun”.

Di banyak kota, terutama yang mengandalkan sektor informal dan jasa, tekanan ekonomi nyata terasa. Banyak pekerja menghadapi ketidakpastian kerja, gaji stagnan, dan peluang kerja yang terbatas, khususnya di kalangan muda dan lulusan baru.

“Gen Z sekarang punya pendidikan yang lebih tinggi, tapi tak cukup banyak lowongan berkualitas. Jadi meski secara teknis ‘terdidik’, mereka tetap kesulitan masuk dunia kerja,” papar Awalil.

Dengan realita ini, Awalil mendorong agar pemerintah tidak hanya mengejar angka pertumbuhan makro, tapi juga menciptakan lapangan kerja secara langsung. Ia menyoroti pentingnya program padat karya, insentif UMKM, hingga pengembangan ekonomi digital dan hijau yang melibatkan anak muda.

“Jika indikator kepercayaan publik terus turun, itu bisa berdampak pada konsumsi dan memperlambat roda ekonomi,” ujarnya.

Meski banyak indikator mulai memudar, masyarakat Indonesia tetap dikenal dengan daya tahannya. Namun, kata Awalil, harapan butuh bahan bakar: kesempatan, pekerjaan, dan kepercayaan bahwa ekonomi bekerja untuk semua.

“Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar janji pertumbuhan, tapi tindakan nyata untuk menciptakan pekerjaan. Kalau tidak, survei berikutnya bisa lebih suram lagi,” pungkas Awalil. ((RNZ)

By editor2