JAKARTA, AKURATNEWS.co – Menjelang peringatan Hari Musik Nasional yang jatuh setiap 9 Maret, semangat memperkuat posisi musik Indonesia kembali digaungkan pelaku industri musik.
Momentum tahunan yang telah diperingati sejak 2013 itu menjadi pengingat pentingnya menjaga keberlangsungan ekosistem musik nasional sekaligus memperkuat identitas budaya melalui karya.
Hari Musik Nasional sendiri ditetapkan melalui Keputusan Presiden No 10/ 2013 yang ditandatangani Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono.
Penetapan tersebut bertujuan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia, memperkuat kepercayaan diri para musisi, serta mendorong prestasi musik nasional di tingkat regional maupun internasional.
Pada 2026, peringatan ini telah memasuki tahun ke-13. Di tengah momentum tersebut, sekelompok pelaku musik lintas generasi memperkenalkan sebuah inisiatif baru bernama Cita Svara Indonesia.
Komunitas ini menjadi ruang kolaborasi bagi musisi, penyanyi, dan pelaku industri yang telah lama berkecimpung dalam ekosistem musik nasional dan sebagian bahkan aktif sejak era 1980-an hingga 1990-an.
Mengusung tagline ‘Beda Masa Satu Rasa’, Cita Svara Indonesia hadir dengan semangat menyatukan energi para pelaku musik untuk memperkuat industri musik nasional. Bagi mereka, zaman boleh berganti, tetapi rasa dan semangat untuk memajukan musik Indonesia tetap sama.
Organisasi ini didirikan dengan tujuan menjadi simpul sinergi dalam ekosistem musik Indonesia.
‘Selain mendorong kolaborasi sehat antar musisi, Cita Svara Indonesia juga ingin membantu menggali potensi musik nasional sebagai industri yang lebih kuat, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Hary Koko, salah satu penggagas Cita Svara Indonesia di sela Forum Diskusi Kedaulatan Musik Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3).
Dikatakan Hary Koko, bagi para penggagasnya, musik bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari kekuatan budaya sekaligus potensi ekonomi yang besar.
“Dengan ekosistem yang sehat, para musisi dan penyanyi sebagai garda terdepan industri diyakini dapat lebih leluasa berkarya dan menghasilkan karya yang mampu menembus pasar internasional,” imbuhnya.
Di tengah arus globalisasi budaya yang semakin deras, Cita Svara Indonesia juga melihat adanya tantangan besar bagi keberlanjutan identitas musik Nusantara.
Pengaruh musik asing yang kuat dinilai dapat menggeser selera publik jika tidak diimbangi dengan penguatan identitas musik nasional.
Karena itu, Cita Svara Indonesia menilai penting untuk menegaskan kedaulatan musik Indonesia di negeri sendiri. Dengan pengakuan dan dukungan kuat di dalam negeri, musik Indonesia diyakini akan memiliki kepercayaan diri lebih besar untuk tampil di panggung dunia.
Para penggagas Cita Svara Indonesia juga menekankan pentingnya sinergi antara pelaku industri, ekosistem musik, serta pemerintah. Kolaborasi strategis antara musisi, pelaku industri kreatif, dan lembaga pemerintah dinilai dapat memperkuat fondasi industri musik nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha yang turut hadir menyoroti tantangan baru yang dihadapi musisi di era digital saat ini.
Menurut mantan vokalis band Nidji ini, seorang musisi modern tidak lagi cukup hanya mampu menciptakan karya musik.
Mereka juga harus memahami berbagai aspek lain seperti pengelolaan citra, strategi media sosial, hingga pengembangan bisnis kreatif seperti merchandise dan kolaborasi dengan berbagai merek.
Ia menilai penguatan ekosistem musik nasional membutuhkan kerja sama lintas sektor.
“Musisi sekarang harus memahami banyak hal, dari karya hingga strategi bisnis kreatif. Karena itu penguatan ekosistem musik nasional harus melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah, pelaku industri, dan media,” ujarnya.
Bagi Cita Svara Indonesia, peringatan Hari Musik Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi tersebut.
Harapannya, musik Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi karya internasional, tetapi juga mampu tampil sebagai kekuatan kreatif yang disegani di panggung musik dunia. (NVR)
