JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan, sebuah langkah kecil namun sarat makna lahir dari kegelisahan seorang pengusaha.
Ya… Hizrah Maulana memilih tidak hanya berbicara, tetapi bertindak melalui peluncuran PT Bandar Pohon Indonesia.
Bagi Hizrah, momen peluncuran perusahaan ini bukan sekadar seremoni bisnis. Di hadapan para tamu undangan, ia justru membuka cerita yang lebih personal, tentang kegelisahan yang ia rasakan sejak masa pandemi Covid-19.
“Semua ini berawal dari keprihatinan. Saat Covid-19, banyak orang kesulitan bernapas, bahkan kehilangan nyawa. Itu menjadi pengingat bahwa ada yang tidak seimbang dalam kehidupan kita, terutama soal ekosistem,” ujarnya di sela peluncuran PT Bandar Pohon Indonesia, Senin (16/3).
Dari pengalaman itulah, Hizrah mulai memandang lingkungan bukan sekadar isu global, melainkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia. Ia menilai, keseimbangan alam saat ini mulai terganggu secara serius.
Ada empat unsur utama yang menurutnya semakin terancam, kesuburan tanah, keberadaan hutan sebagai paru-paru dunia, ketersediaan air, dan kualitas udara. Keempatnya saling berkaitan, namun kini menghadapi tekanan yang semakin berat.
Fenomena betonisasi menjadi salah satu sorotan utamanya. Di banyak wilayah perkotaan, tanah yang seharusnya menjadi ruang hidup justru tertutup bangunan.
“Sekarang hampir tidak ada tanah yang benar-benar subur. Banyak lahan dibeton, hutan ditebang untuk pembangunan properti, dan resapan air semakin hilang,” jelasnya.
Dampak betonisasi ini bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada meningkatnya risiko bencana. Banjir dan longsor, menurut Hizrah, menjadi konsekuensi nyata dari hilangnya keseimbangan alam tersebut.
Tak hanya itu, kualitas udara yang terus menurun juga menjadi perhatian serius. Polusi yang semakin tinggi disebut turut berkontribusi pada meningkatnya kasus gangguan kesehatan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang kian sering terjadi di masyarakat.
Di tengah kondisi itu, kehadiran PT Bandar Pohon Indonesia diharapkan menjadi bagian dari solusi. Bukan hanya sebagai entitas bisnis, tetapi juga sebagai gerakan yang mendorong perubahan pola pikir.
Hizrah pun mengajak masyarakat untuk mulai memikirkan kembali konsep pembangunan yang selama ini dijalankan.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang hijau di tengah kawasan hunian dan perkotaan.
“Kalau kita ingin lingkungan kembali sehat, kita harus mulai dari hal sederhana. Rumah dan kawasan tidak boleh semuanya dibeton. Harus ada ruang untuk tanah, untuk air, dan untuk pohon,” ujarnya.
Melalui perusahaan yang ia dirikan ini, Hizrah berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem bisa terus tumbuh.
“Saya percaya, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dari satu pohon yang ditanam, dari satu ruang hijau yang dipertahankan,” ujar pria yang juga dikenal dengan nama Hizrah Bacan ini.
Di tengah derasnya pembangunan dan urbanisasi, peluncuran PT Bandar Pohon Indonesia menjadi pengingat bahwa pertumbuhan tidak harus mengorbankan alam.
“Justru sebaliknya, masa depan yang berkelanjutan hanya bisa tercapai jika manusia kembali berdamai dengan lingkungan,” imbuhnya.
Soal target utama pengembangan bisnis, Hizrah menyebut targetnya banyak menyasar sektor perumahan.
Ia ingin mendorong masyarakat, khususnya penghuni rumah di kawasan perkotaan, untuk mulai memahami pentingnya menanam pohon yang tepat, baik dari sisi kualitas maupun penataan.
“Target kami sebenarnya sederhana, bagaimana setiap rumah bisa memiliki pohon yang berkualitas dan ditanam dengan cara yang benar, baik di rumah pribadi maupun di kawasan perumahan,” ujarnya.
Menurut Hizrah, tren pembangunan perumahan saat ini sering kali mengabaikan aspek penghijauan.
Padahal, keberadaan pohon tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap kualitas lingkungan, seperti menjaga suhu udara, meningkatkan resapan air, hingga memperbaiki kualitas oksigen.
Pihaknya telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah serta sejumlah daerah seperti Riau dan Semarang, untuk mengembangkan konsep penghijauan yang lebih terintegrasi di kawasan hunian.
“Responsnya luar biasa. Banyak yang mulai sadar bahwa pohon bukan sekadar pelengkap, tapi kebutuhan,” katanya.
Namun Hizrah mengakui bahwa edukasi kepada masyarakat masih menjadi tantangan. Banyak orang yang belum memahami jenis pohon yang tepat untuk ditanam di lingkungan rumah, termasuk cara merawat dan menatanya agar tetap estetis.
PT Bandar Pohon Indonesia pun hadir tidak hanya sebagai penyedia tanaman, tetapi juga sebagai konsultan penghijauan dan menawarkan survei lokasi hingga rekomendasi penataan pohon yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan penghuni.
“Kami sering diminta memberikan solusi, bagaimana menata pohon agar tetap indah tapi juga fungsional. Jadi bukan sekadar menanam, tapi juga menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pemilik rumah,” jelasnya.
Hizrah juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memilih pohon hanya karena tren atau kepentingan bisnis semata. Ia menilai, pemilihan tanaman harus mempertimbangkan manfaat jangka panjang, bukan sekadar nilai jual.
“Kita harus hindari pola pikir hanya ikut-ikutan atau sekadar bisnis potongan tanaman. Yang penting adalah kebermanfaatannya untuk lingkungan,” tegasnya. (NVR)
