JAKARTA, AKURATNEWS.co – Presiden Rusia Vladimir Putin akan berkunjung ke India pada Desember 2025. Rusia dan India akan melanjutkan kerja sama pengembangan energi nuklir generasi terbaru yang canggih.
Kremlin sedang aktif mempersiapkan kunjungan Putin ke Negeri Bollywood. Putin direncanakan akan bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi membahas masalah perdagangan, keamanan global, dan regional.
“Kami saat ini sedang secara aktif mempersiapkan kunjungan Putin ke India,” kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan di Moskow dikutip dari Beritasatu, Rabu (12/11/2025).
Peskov menolak memberikan rincian mengenai kesepakatan apa saja yang mungkin dicapai selama kunjungan Putih di India.
Diketahui, Rusia dan India merupakan pendiri BRICS, organisasi kerja sama ekonomi dan geopolitik negara-negara berkembang yang dianggap menjadi ancaman nyata bagi Amerika Serikat.
Putin punya hubungan baik dengan Narendra Modi. Dia terakhir kali ke India pada Desember 2021, dua bulan sebelum Moskow memulai agresi militer ke Ukraina.
Kunjungan Putin ke India kali ini bisa saja membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump tambah berang. Trump sudah berulang kali meminta India menghentikan pembelian minyak dari Rusia. India merupakan salah satu pembeli minyak Rusia terbesar.
Bangun Nuklir Terbaru
Badan nuklir Rusia, Rosatom sedang menyiapkan spesifikasi teknis untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir terbaru di India dengan reaktor canggih berkapasitas 1.200 megawatt (Mw).
Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev dan Ketua Departemen Energi Atom India Ajit Kumar Mohanty sudah bertemu di Mumbai, membahas kerja sama baru, termasuk proyek pembangunan reaktor modular kecil (SMR).
Dikutip dari Hindustan Times, pertemuan tersebut fokus pada pengembangan kerja sama di bidang energi nuklir sipil.
Mereka juga meninjau kemajuan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kudankulam di Tamil Nadu. Ini fasilitas nuklir terbesar di India dan proyek utama kerja sama energi Rusia-India. PLTN ini akan memiliki enam reaktor VVER-1.000 dengan total kapasitas 6.000 megawatt.
Rosatom mengatakan pembangunan unit nuklir berkapasitas tinggi berbasis teknologi VVER-1.200 menjadi salah satu fokus utama kerja sama. India dan Rusia sudah berdiskusi beberapa tahun mengenai pembangunan PLTN kedua, meski detail proyek baru belum diumumkan.
Teknologi SMR dapat membantu memasok listrik bersih ke daerah terpencil dan untuk industri tertentu. Pada PLTN Kudankulam, Unit 1 dan 2 sudah terhubung ke jaringan listrik India pada 2013 dan 2016, sementara Unit 3 sedang dalam persiapan prapengoperasian. Pembangunan Unit 4 masih berjalan, dan Unit 5–6 sedang dibangun.
Pertemuan itu juga membahas pengembangan proyek nuklir besar dan kecil serta kerja sama di siklus bahan bakar nuklir. Mereka menyoroti peluang untuk memproduksi peralatan secara lokal di India.
Likhachev menekankan Rusia dan India memiliki “kemitraan jangka panjang dan saling menguntungkan di bidang nuklir”, dan proyek Kudankulam membuka jalan untuk inisiatif baru serta pertukaran teknologi.
“Kami telah membangun sistem kerja sama yang efektif dan rantai pasok yang andal, yang kini menjadi dasar untuk pengembangan proyek baru, baik pembangkit listrik besar maupun kecil,” katanya.
Ia menambahkan Rosatom siap mendukung target India meningkatkan kapasitas pembangkit nuklir hingga 100 gigawatt dengan menawarkan teknologi yang efisien dan terbukti.
Perusahaan bahan bakar nuklir Rosatom, TVEL memasok bahan bakar nuklir canggih TVC-2M ke India yang memberikan kemampuan baru bagi PLTN Kudankulam. Dengan bahan bakar ini, PLTN dapat beroperasi dengan siklus bahan bakar 18 bulan, sehingga lebih efisien secara ekonomi dibandingkan siklus 12 bulan tradisional.
“Sekitar setengah dari target ini akan dicapai melalui kerja sama tradisional antarnegara, dan sebagian besar sisanya kemungkinan akan dilakukan dengan melibatkan investasi internasional dan modal swasta,” ujar Likhachev.
Likhachev memuji India sebagai sahabat yang menggantikan negara-negara lain yang tidak setia ketika Rusia mendapat sanksi dari negara-negara Barat.
Kerja sama yang dibangun Rusia dan India tersebut dalam bidang energi nuklir sipil. Namun, kedua negara tentu saja sama-sama memiliki senjata nuklir bahkan masuk dalam daftar tujuh besar negara pemilik nuklir terbanyak di dunia.
Rusia berada pada peringkat teratas sebagai negara pengoleksi senjata nuklir terbanyak di dunia. Moskow disebut memiliki 5.889 senjata nuklir, kemudian disusul Amerika Serikat dengan 5.244 senjata nuklir. India berada pada peringkat ketujuh dengan 164 senjata nuklir.
Baru-baru ini, sempat terjadi ketegangan antara AS dengan Rusia soal rencana uji coba nuklir. Presiden Trump akhir Oktober 2025 telah meminta Depertemen Pertahanan AS untuk memulai kembali uji coba senjata nuklir, setelah berhenti sejak 1992.
Trump berdalih negara lain sudah menguji coba lagi senjata nuklir. Dia menyebut Korea Utara, Rusia, dan China. Namun, Kremlin menegaskan mereka tetap berkomitmen pada larangan uji coba nuklir.
Dmitry Peskov mengatakan Rusia dan China tidak melakukan uji coba senjata nuklir, dan Rusia tetap mematuhi larangan tersebut.
“Namun, jika negara lain melakukannya, maka kami akan terpaksa melakukan hal yang sama demi kesetaraan,” kata Peskov dikutip dari RIA Novosti.
Rudal Nuklir Generasi Terbaru
Sebelumnya, Vladimir Putin mengumumkan Rusia telah memulai pengembangan rudal jelajah bertenaga nuklir generasi terbaru yang kecepatannya akan lebih dari tiga kali kecepatan suara.
“Pada masa mendatang bahkan akan menjadi hipersonik,” ujar Putin.
Pernyataan itu disampaikan Putin saat memberikan penghargaan kepada para pengembang rudal Burevestnik dan kendaraan nirawak bawah air Poseidon di Kremlin, Moskow, Selasa (4/11/2025).
Putin mengungkapkan rudal nuklir generasi baru sedang dikembangkan menggunakan unit daya serupa dengan sistem pada Burevestnik dan Poseidon, simbol kemajuan teknologi pertahanan Rusia.
Burevestnik dan Poseidon dikembangkan sejak 2018. Rudal Burevestnik bisa terbang selama 15 jam dengan daya jelajah sejauh 14.000 kilometer.
Putih mengatakan pengembangan senjata terbaru tersebut memiliki arti sejarah dan penting untuk menjamin keamanan serta keseimbangan strategis global dalam beberapa dekade mendatang.
Putin menegaskan Rusia tidak bermaksud mengancam negara lain. Pengembangan kekuatan nuklir ini sejalan dengan praktik yang diterapkan oleh kekuatan nuklir global lainnya.
“Tahun ini kami akan mengerahkan sistem rudal balistik antarbenua Sarmat untuk uji coba tempur, dan tahun depan untuk tugas tempur,” ujarnya./Ib. Foto. Dok, Embessy of India.
