YOGYAKARTA, AKURATNEWS.co – Sidang Disertasi Terbuka Program Doktor Politik Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berlangsung khidmat pada Selasa, (12/5).
Promovendus Husni Amriyanto Putra resmi dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan berhak menyandang gelar Doktor Ilmu Politik Islam. Hal ini diumumkan Ketua sidang, Prof Achmad Nurmandi di hadapan peserta.
“Husni Amriyanto lulus sangat memuaskan dan berhak menyandang gelar doktor Ilmu Politik Islam UMY,” ujarnya.
Dalam sidang tersebut, Husni mempertahankan disertasi berjudul Faith-Based Organization dan Diplomasi Perdamaian: Studi atas Sikap, Posisi dan Peran Muhammadiyah dalam Krisis Kemanusiaan Rohingya.
Disertasi Husni ini mengkaji peran Muhammadiyah sebagai faith-based organization dalam upaya diplomasi kemanusiaan dan perdamaian internasional, khususnya pada konflik Rohingya di Myanmar.
Ia menilai krisis Rohingya bukan sekadar konflik etnis, melainkan bencana kemanusiaan kompleks. Kelompok Rohingya tidak mendapat hak kewarganegaraan layak di Myanmar, sementara penyelesaian konflik terhambat prinsip non-intervensi di ASEAN.
“Karena itu, aktor non-negara seperti organisasi keagamaan memiliki ruang penting dalam diplomasi kemanusiaan,” jelas Husni.
Menurut penelitiannya, Muhammadiyah lebih dominan menjalankan peran peacebuilding dibandingkan peacemaking dalam kasus Rohingya. Bentuknya berupa bantuan kesehatan, pembangunan pasar, dan sekolah di wilayah konflik.
Salah satu temuan penting Husni adalah pembangunan pasar oleh Muhammadiyah yang berfungsi sebagai ruang interaksi sosial antara komunitas Muslim dan Buddha.
“Pasar yang dibangun Muhammadiyah menjadi tempat kohesi sosial. Masyarakat Buddha dan Muslim bisa bertemu dalam aktivitas ekonomi sehari-hari,” ungkapnya.
Husni juga menyoroti rekam jejak internasional Muhammadiyah dalam upaya perdamaian, mulai dari Patani hingga Mindanao.
Diplomasi kemanusiaan dijalankan melalui MDMC dan Muhammadiyah Aid dengan pendekatan moral dan etika kemanusiaan.
“Prinsip Muhammadiyah adalah moral etik. Tidak ada unsur kepentingan lain di dalamnya,” tegasnya.
Saat sidang, Husni didampingi Tim promotor yang terdiri dari Prof Dr Zuly Qodir, M.Ag, Prof Muhammad Faris Al-Fadhat, S.IP M.A Ph.D, dan Dr Hasse Jubba M.A.
Dr Hasse Jubba menegaskan, tim promotor mempertanggungjawabkan kualitas akademik disertasi tersebut. Husni juga telah memiliki karya ilmiah yang terbit di jurnal internasional terindeks Scopus.
Para penguji menyoroti posisi Muhammadiyah sebagai aktor global non-negara. Prof Ali Muhammad mempertanyakan karakteristik khas Muhammadiyah dibanding organisasi lain.
Atas pertanyaan tersebut, Husni menjawab, Muhammadiyah menitikberatkan aksi nyata tanpa kepentingan politik tertentu, berbeda dengan pendekatan melalui tokoh agama yang umum dilakukan organisasi lain.
Prof Muhammad Faris Al-Fadhat menilai disertasi ini memberi kontribusi penting dalam perdebatan intelektual di jenjang doktoral.
Sementara Abdul Gaffar Karim menyoroti pentingnya pelembagaan solidaritas kemanusiaan Muhammadiyah di tengah tingginya dukungan publik terhadap isu Rohingya dan Palestina.
Husni menyimpulkan penyelesaian konflik Rohingya masih sulit selama belum ada perubahan politik signifikan di Myanmar.
“Kasus Rohingya masih sulit karena belum ada perubahan besar dalam pemerintahan Myanmar,” pungkasnya.
Disertasi ini sendiri menambah literatur tentang peran organisasi keagamaan dalam diplomasi internasional, sekaligus menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai aktor kemanusiaan global di luar jalur negara. (NVR)
