Cara Bangsa Memperlakukan Ibu
Oleh:
Dr. Farahdibha Tenrilemba, M.Kes.
Pendiri Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Aktivis dalam berbagai forum kebijakan global, termasuk Women20 (G20).
MENGAPA masa depan Indonesia dimulai dari keberanian mendukung para ibu?
Setiap kali Pekan Menyusui Dunia diperingati, ruang publik kembali dipenuhi berbagai pesan mengenai pentingnya ASI eksklusif, teknik menyusui yang benar, hingga manfaat menyusui bagi kesehatan ibu dan bayi.
Semua itu tentu penting. Namun, setiap kali momentum tersebut datang, saya justru selalu teringat pada pertanyaan yang jauh lebih besar.
Apakah kita sedang membicarakan menyusui, atau sesungguhnya sedang membicarakan bagaimana sebuah bangsa memperlakukan para ibunya?
Selama hamper dua puluh tahun, saya berkesempatan menyaksikan bagaimana isu menyusui di Indonesia berkembang dari sebuah percakapan di ruang tamu para ibu menjadi gerakan masyarakat sipil, masuk ke dalam agenda kebijakan nasional, hingga kini menjadi bagian dari diskusi global mengenai pembangunan manusia dan ekonomi perawatan (care economy).
Perjalanan itu mengubah cara saya memandang menyusui. Ia bukan lagi sekadar persoalan kesehatan ibu dan bayi, melainkan cermin bagaimana sebuah bangsa menghargai kerja-kerja pengasuhan yang menjadi fondasi bagi masa depannya.
Tantangan terbesar kita hari ini adalah apakah sistem yang kita bangun benar-benar memungkinkan seorang perempuan berhasil menjadi ibu, tanpa harus mengorbankan kesehatan, pekerjaannya, maupun masa depan anaknya.
Dan di situlah sesungguhnya kualitas sebuah bangsa sedang diuji.
Menjadi ibu adalah salah satu transisi terbesar dalam kehidupan seorang perempuan. Pada fase inilah ia menjalankan fungsi biologis, psikologis, sosial, bahkan ekonomi secara bersamaan.
Ia harus memulihkan tubuhnya setelah melahirkan, membangun ikatan dengan bayinya, belajar menyusui, sekaligus mulai memikirkan bagaimana kembali menjalankan peran di dunia kerja maupun kehidupan sosialnya.
Ironisnya, justru pada fase yang paling menentukan tersebut, banyak perempuan merasa harus berjuang sendirian. Kita sering menganggap proses itu sebagai sesuatu yang alamiah sehingga dukungan terhadap ibu dipersepsikan sebagai bentuk belas kasihan, bukan sebagai investasi yang memang seharusnya diberikan oleh negara dan masyarakat.
The Hidden Question
Selama ini kita terlalu sering bertanya kepada ibu.
Apakah ASI-nya cukup? Apakah bayinya naik berat badan? Apakah ASI eksklusif berhasil?
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting justru adalah:
Apakah tempat kerjanya mendukung? Apakah ia memperoleh cuti yang memadai?
Apakah ayah memperoleh kesempatan untuk terlibat?
Apakah tenaga kesehatan terus mendampinginya setelah pulang dari rumah sakit?
Apakah keluarga menjadi sumber dukungan atau justru tekanan?
Menyusui tidak pernah berlangsung di ruang hampa. Ia selalu dipengaruhi oleh lingkungan sosial, kebijakan publik, sistem kesehatan, hingga budaya kerja yang mengelilingi seorang ibu.
Dari Menyusui ke Pembangunan Manusia
Di sinilah saya mulai melihat bahwa menyusui sesungguhnya bukan sekadar isu kesehatan.
Ia merupakan investasi pertama dalam pembangunan manusia.
Indonesia hari ini berbicara mengenai bonus demografi, Indonesia Emas 2045, produktivitas tenaga kerja, bahkan daya saing global.
Namun kita sering lupa bahwa seluruh cita-cita tersebut memiliki titik awal yang sama: kualitas kehidupan seorang anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Dan kualitas 1.000 hari pertama sangat bergantung pada kualitas dukungan yang diterima seorang ibu.
Salah satu indikator yang menunjukkan hal tersebut adalah masih tingginya tantangan stunting di Indonesia. Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak. Ia merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang terjadi sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga awal kehidupan seorang anak.
Status gizi ibu, kualitas pelayanan kesehatan, infeksi berulang, sanitasi, kemiskinan, praktik pemberian makan bayi dan anak, termasuk keberhasilan menyusui, saling berinteraksi membentuk kualitas tumbuh kembang anak.
Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang pencegahan stunting, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai kemampuan negara membangun sebuah ekosistem yang memungkinkan keluarga memberikan awal kehidupan terbaik bagi anak-anaknya.
Karena itu, saya sering mengatakan bahwa keberhasilan menyusui tidak boleh hanya diukur dari apakah seorang ibu mampu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan.
Keberhasilan menyusui seharusnya juga diukur dari keberhasilan negara membangun lingkungan yang memungkinkan hal itu terjadi.
Ketika seorang ibu memperoleh cuti yang memadai, tempat kerja yang mendukung, tenaga kesehatan yang kompeten, serta keluarga yang memahami pentingnya menyusui, sesungguhnya kita sedang membangun fondasi kesehatan dan produktivitas generasi berikutnya.
Dengan kata lain, investasi kepada ibu bukanlah pengeluaran sosial semata, melainkan investasi pembangunan nasional.
Selama hampir dua dekade, saya menyaksikan isu menyusui bergerak dari ruang tamu para ibu, menjadi gerakan masyarakat sipil, kemudian masuk ke ruang-ruang kebijakan nasional, dan kini menjadi bagian dari percakapan global mengenai pembangunan manusia dan care economy.
Perjalanan itulah yang mengubah cara saya memandang menyusui. Yang semula saya lihat sebagai persoalan kesehatan ibu dan bayi, kini saya pahami sebagai fondasi bagi pembangunan manusia, kesetaraan kesempatan, bahkan pertumbuhan ekonomi.
Indonesia patut berbangga karena dalam beberapa tahun terakhir telah memperkuat perlindungan terhadap ibu melalui berbagai regulasi, mulai dari Undang-Undang Kesehatan, Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan, hingga berbagai aturan mengenai perlindungan ibu menyusui.
Namun pekerjaan terbesar bangsa ini sesungguhnya bukan lagi menambah regulasi.
Melainkan memastikan regulasi tersebut benar-benar hidup di tempat kerja, di puskesmas, di rumah sakit, di ruang keluarga, dan dalam budaya masyarakat.
Pengalaman saya berdiskusi dalam berbagai forum internasional juga menunjukkan bahwa arah percakapan global telah berubah. Jika dahulu menyusui dipandang semata sebagai isu kesehatan ibu dan anak, kini semakin banyak negara mulai melihatnya sebagai bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai care economy, partisipasi perempuan dalam dunia kerja, kesetaraan kesempatan, serta pembangunan manusia.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari percakapan tersebut. Bukan hanya karena kita memiliki regulasi yang semakin kuat, tetapi juga karena pengalaman panjang masyarakat sipil, tenaga kesehatan, akademisi, dan para ibu sendiri dalam membangun gerakan yang berpihak pada keluarga.
Saya semakin percaya bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari jalan tol yang dibangun, gedung pencakar langit yang berdiri, atau pertumbuhan ekonomi yang dicapai.
Kemajuan sebuah bangsa juga diukur dari bagaimana ia hadir ketika warganya berada pada fase kehidupan yang paling menentukan.
Salah satu fase itu adalah ketika seorang perempuan menjadi ibu. Karena pada akhirnya, seorang bayi memang dilahirkan oleh seorang ibu.
Namun seorang ibu yang berhasil membesarkan generasi masa depan tidak pernah bekerja sendirian.
Ia dibentuk oleh keluarga yang mendukng, tempat kerja yang memahami, tenaga kesehatan yang mendampingi, kebijakan yang berpihak, dan negara yang memilih untuk hadir.
Barangkali itulah makna terdalam yang perlu kita renungkan setiap kali Pekan Menyusui Dunia diperingati.
Pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak dimulai ketika seorang anak memasuki sekolah, apalagi ketika ia memasuki dunia kerja.
Masa depan sebuah bangsa dimulai jauh lebih awal, ketika seorang perempuan menjadi ibu. Cara kita memperlakukan para ibu hari ini pada hakikatnya adalah cara kita membangun Indonesia di masa depan.
