Belajar dari Tiongkok: Ketekunan Membangun Masa Depan

0
Anggawira 1

Oleh Dr. Anggawira
Ketua Umum ASPEBINDO dan Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Alumni IPB

JAKARTA, AKURATNEWS.co – Saya pertama kali berkesempatan mengamati Tiongkok dari dekat pada 2010. Saat itu, saya mengikuti undangan program ASEAN+3 dan mengunjungi beberapa kota selama sekitar 20 hari. Sebelas tahun kemudian, pada 2021, saya mengikuti program singkat tentang kepemimpinan dan bisnis bersama Tsinghua University. Perjalanan bisnis ke Shanghai dan Suzhou bersama Bang Sandiaga Uno pada September 2026 memberi saya kesempatan untuk melihat lagi perkembangan negeri itu melalui perusahaan dan lembaga yang kami pelajari.

Tiga pengalaman pada waktu yang berbeda tersebut meninggalkan satu kesan yang sama: kemajuan membutuhkan ketekunan. Yang terlihat hari ini merupakan hasil dari keputusan yang direncanakan, dikerjakan, dan diteruskan dalam jangka panjang. Bagi Indonesia, Tiongkok adalah mitra ekonomi yang penting sekaligus tempat belajar tentang cara membangun kemampuan industri dan manusia.

Dalam perjalanan kali ini, agenda kami mencakup Bosum Institute, CHAGEE, Tencent, dan ECOVACS Robotics. Keempatnya bergerak di bidang berbeda, tetapi saling melengkapi sebagai bahan pembelajaran: bagaimana membangun merek, menyiapkan pemimpin usaha, memakai teknologi, dan mengubah riset menjadi produk. (sandsbosum.co.id)

CHAGEE menunjukkan bahwa nilai sebuah produk jauh melampaui bahan bakunya. Indonesia juga menghasilkan teh. Namun, untuk menjangkau konsumen dalam skala besar, sebuah usaha harus mampu menjaga mutu, mengelola jaringan gerai, membangun merek, dan terus membaca perubahan selera pasar.

Pada akhir 2025, CHAGEE melaporkan 7.453 gerai di Tiongkok Raya dan pasar luar negeri. Sepanjang tahun itu, nilai transaksi bruto jaringannya mencapai RMB31,58 miliar, sedangkan pendapatan yang dicatat perusahaan sebesar RMB12,91 miliar. Kedua angka tersebut perlu dibedakan: nilai transaksi menggambarkan penjualan di jaringan gerai, sementara pendapatan adalah nilai yang dibukukan perusahaan. (investor.chagee.com)

Besarnya jaringan tidak menghapus tantangan bisnis. Pada kuartal terakhir 2025, CHAGEE mencatat penurunan nilai transaksi gerai yang telah beroperasi setidaknya 13 bulan di Tiongkok Raya dibandingkan setahun sebelumnya. Data ini mengingatkan kita bahwa pertumbuhan tidak cukup diukur dari banyaknya cabang. Perusahaan harus tekun memperbaiki kinerja setiap unit usaha ketika persaingan dan perilaku konsumen berubah. (investor.chagee.com)

Pelajaran berikutnya datang dari Bosum Training Center. Ketika usaha tumbuh, kemampuan pendirinya saja tidak lagi cukup. Perusahaan membutuhkan manajer, sistem kerja, pembagian tanggung jawab, dan pemimpin baru yang dapat mengambil keputusan dengan baik. Menurut profil Sands Bosum, jejaringnya memiliki 18 pusat pelatihan di Asia dan lebih dari 60.000 alumni eksekutif. Bagi saya, angka itu menunjukkan besarnya kebutuhan untuk terus mengembangkan kemampuan orang-orang yang memimpin usaha. (sandsbosum.co.id)

Di Indonesia, kita sering berharap usaha kecil segera naik kelas. Harapan itu perlu disertai pelatihan yang menjawab masalah nyata: mengatur keuangan, menjaga mutu saat produksi meningkat, membangun tim, dan memasuki pasar baru. Kampus serta asosiasi usaha dapat bekerja bersama untuk menyediakan pembelajaran yang langsung diterapkan oleh pengusaha.

Tencent dan ECOVACS memperlihatkan pentingnya investasi teknologi yang berkelanjutan. Tencent membukukan pendapatan RMB751,8 miliar pada 2025, naik 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan menjelaskan bahwa kemampuan kecerdasan buatan membantu bisnis iklan dan keterlibatan pengguna, sementara layanan komputasi awannya terus berkembang. Teknologi memberi nilai ketika dipakai untuk menyelesaikan kebutuhan yang jelas. (static.www.tencent.com)

ECOVACS membawa teknologi ke dunia manufaktur. Menurut keterangan perusahaan, produk kelompok usahanya telah diekspor ke lebih dari 170 negara dan wilayah serta melayani lebih dari 50 juta pengguna rumah tangga. ECOVACS juga menjelaskan kerja samanya dengan universitas dan lembaga riset. Pelajaran yang saya tangkap adalah pentingnya menghubungkan penelitian, kemampuan produksi, dan pemahaman pasar sampai lahir produk yang benar-benar digunakan masyarakat. (ecovacs.com)

Hubungan Indonesia dan Tiongkok sudah memberi dasar untuk memperluas kerja sama tersebut. Badan Pusat Statistik mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok mencapai US$58,24 miliar, atau 23,8 persen dari seluruh ekspor nonmigas, selama Januari–November 2025. Tiongkok adalah pasar yang besar bagi kita. Pertanyaannya, bagaimana kemitraan ini juga membantu lebih banyak perusahaan Indonesia meningkatkan keterampilan, menguasai teknologi, dan menjual produk bernilai tambah? (bps.go.id)

Menurut saya, kerja sama perlu menghasilkan kesempatan belajar yang nyata bagi kedua pihak. Kemitraan perusahaan dapat mencakup pengembangan pemasok lokal dan pelatihan tenaga kerja. Kerja sama kampus dapat diarahkan pada riset yang dibutuhkan industri. Bagi sektor pertanian, pangan, dan energi, tujuannya jelas: sumber daya Indonesia diolah dengan kemampuan yang semakin kuat di dalam negeri, kemudian menjangkau pasar yang lebih luas.

Semua itu memerlukan perencanaan jangka panjang. Pengusaha akan lebih berani menanam modal pada pabrik, riset, dan pekerja apabila arah kebijakan cukup jelas untuk beberapa tahun ke depan. Stabilitas politik membantu menjaga ruang bagi perencanaan tersebut. Meritokrasi memastikan orang yang diberi tanggung jawab memiliki kemampuan untuk menjalankannya. Kepemimpinan yang baik harus mampu menjaga tujuan, memeriksa hasil, lalu memperbaiki langkah tanpa kehilangan arah.

Dari perjalanan pada 2010, pembelajaran bersama Tsinghua University pada 2021, hingga kunjungan tahun ini, saya melihat alasan untuk terus membangun kemitraan dengan Tiongkok. Kita dapat belajar dari ketekunannya, sekaligus membawa kekuatan dan kepentingan Indonesia sendiri ke dalam kerja sama. Kemajuan tidak datang dari satu kunjungan atau satu kebijakan. Ia lahir ketika rencana yang baik dijalankan dengan sungguh-sungguh, dievaluasi, dan diteruskan. Itulah pekerjaan jangka panjang yang perlu kita lakukan bersama./Ib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *