JAKARTA, AKURATNEWS.co – Suasana Aula HM Rasyidi, Gedung Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, Sabtu (14/2), terasa lebih khidmat dari biasanya.
Di ruang itu, sejarah seakan dipanggil kembali ke hadapan publik lewat bedah buku bertajuk ‘KH. Abdul Wahab Hasbullah’ yang dirangkai dengan Sarasehan Alim Ulama.
Kegiatan ini digagas Kyai Wahab Foundation (KWF) bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum Jabodetabek (IKABU) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Bukan sekadar peluncuran buku, acara ini menjadi bagian dari upaya merawat ingatan kolektif tentang salah satu ulama besar Nusantara yang jejak intelektual dan politiknya berdampak luas, bahkan lintas negara.
Nama Abdul Wahab Hasbullah yang akrab disapa Mbah Wahab, bukan hanya tercatat sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga sebagai tokoh diplomasi Islam Indonesia di panggung global.
Dalam sambutannya, Nyai Hajjah Hizbiyah Rochim Wahab, putri Mbah Wahab sekaligus Ketua Muslimat NU DKI Jakarta mengingatkan kembali momen monumental ketika ayahnya memimpin misi diplomatik Komite Hijaz.
“Berkat perjuangan itu, Makam Rasulullah SAW terselamatkan dari pembongkaran. Hari ini umat Islam dunia tetap bisa berziarah di Madinah karena keberanian dan kecerdasan beliau,” tuturnya.
Narasi ini menguatkan posisi Mbah Wahab bukan hanya sebagai ulama pesantren, tetapi sebagai negarawan dengan visi internasional.
Acara ini juga dihadiri Wakil Presiden RI ke-13, Ma’ruf Amin, yang dalam orasinya menyoroti visi kebangsaan Mbah Wahab.
Menurutnya, pola pikir sang ulama relevan untuk menghadapi abad kedua NU.
“Menghadapi 100 tahun kedua NU, pola pikir KH Abdul Wahab ini bisa dilanjutkan. Semangat yang dirintis beliau harus kita rumuskan kembali,” ujarnya.
Ia menegaskan, Mbah Wahab telah merumuskan hubungan harmonis antara agama dan negara, sehingga Indonesia mampu berdiri sebagai negara-bangsa yang stabil. Buku ini, lanjutnya, diharapkan mampu melahirkan ‘KH Abdul Wahab kedua’, figur ulama yang kreatif, berani, dan visioner.
KH Umar Wahid, cucu Hasyim Asy’ari, menambahkan, dimensi sejarah lain: peran Mbah Wahab sebagai motor penggerak berdirinya NU.
Ia juga menyoroti kecerdasan budaya sang tokoh, termasuk penciptaan tradisi halal bihalal sebagai sarana rekonsiliasi sosial-politik bangsa.
“Beliau bukan hanya organisator ulung, tetapi juga pendidik yang mengayomi. Di lingkungan keluarga, beliau mengajar siapa saja tanpa membedakan latar belakang sosial,” ungkapnya.
Di titik ini, sosok Mbah Wahab tampak utuh: ulama, diplomat, organisator, sekaligus pendidik.
Buku yang ditulis Drs. KH Abdul Mun’im, DZ ini mendapat dukungan penuh dari ANRI, di antaranya melalui Dr. Kandar, MAP, guna memastikan rekam jejak sejarah tersebut terdokumentasi secara akademik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
H. Romahurmuziy, cicit Mbah Wahab, turut menekankan pentingnya mewariskan spirit kreativitas dan keberanian sang kakek buyut kepada generasi kini.
Ditambahkan Ketua Panitia dari KWF dan IKABU Jabodetabek, Robi Cahyadi, dirinya berharap kegiatan ini mendorong generasi muda memperkuat literasi sejarah ulama.
“Sejarah bukan sekadar nostalgia, tetapi kompas untuk menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya.
Bedah buku ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah intelektual ulama Nusantara bukan cerita pinggiran, melainkan fondasi bagi perjalanan bangsa.
Dalam sosok KH Abdul Wahab Hasbullah, publik menemukan teladan tentang keberanian berdiplomasi, kecerdasan membaca zaman, serta kemampuan merawat harmoni antara agama dan negara.
Di tengah tantangan global dan dinamika sosial-politik hari ini, kisah Mbah Wahab seolah berbisik: warisan terbesar bukan hanya organisasi atau tradisi, tetapi pola pikir serta cara melihat dunia dengan keberanian, kebijaksanaan, dan cinta pada tanah air. (NVR)
