JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di balik laporan laba dan layanan digital perbankan, ada cerita lain yang sedang ditumbuhkan DBS Foundation.

Ceritanya tidak tentang bunga pinjaman, tapi tentang kerja yang lebih setara, klinik yang lebih dekat, dan buah tropis yang akhirnya sampai ke pasar ekspor.

Lewat DBS Foundation Grant 2025, bank memilih tiga social enterprise sebagai mitra jangka panjang: KONEKIN Indonesia, DoctorTool, dan Java Fresh.

Tiga nama, tiga masalah sosial berbeda. Tapi benang merahnya satu: bisnis boleh tumbuh, asal masyarakatnya ikut naik kelas.

Marthella Sirait tahu rasanya membaca data inklusi hanya di atas kertas. Bekal pengalamannya di bidang kebijakan sosial ia ubah menjadi KONEKIN, sebuah platform yang mempertemukan dunia usaha dengan talenta penyandang disabilitas.

“Perusahaan butuh talenta. Penyandang disabilitas butuh akses. Kami jadi jembatan di tengahnya,” kata Marthella di Jakarta, baru-baru ini.

KONEKIN tidak berhenti di rekrutmen. Platform ini juga menguatkan UMKM inklusif, dari pelatihan hingga penempatan. Tujuannya sederhana tapi besar: membuat dunia kerja Indonesia sedikit lebih adil.

Bagi DBS Foundation, KONEKIN adalah contoh bagaimana inklusi bisa diubah menjadi model bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar program CSR setahun sekali.

Jika KONEKIN bicara tentang orang, DoctorTool bicara tentang tempat. Co-Founder dan Chief Commercial Officer-nya, Elisa Yoshigoe Wijaya melihat jurang akses kesehatan yang paling lebar ada di wilayah rural dan underserved.

Jawabannya: digitalisasi. DoctorTool membangun ekosistem digital yang membantu klinik kecil memodernisasi antrean, rekam medis, hingga stok obat.

Hasilnya, pasien tidak perlu menempuh jam perjalanan hanya untuk periksa ringan. Layanan jadi lebih cepat, biaya lebih terkontrol, dan data klinik lebih rapi untuk rujukan.

“Transformasi digital kesehatan tidak harus dimulai dari rumah sakit besar di kota. Justru dari klinik kecil yang paling dibutuhkan masyarakat,” ujar Elisa.

“Kita juga fasilitas klinik-klinik yang menggunakan aplikasi kami untuk secara berkala mendapat pelatihan, bahkan sampai ke klinik di pelosok,” imbuhnya.

Di sisi ekonomi komunitas, ada Java Fresh. Co-Founder dan CEO, Margareta Astaman percaya bisnis rantai pasok bisa jadi alat mengangkat petani mikro.

Modelnya: merapikan rantai pasok buah tropis Indonesia. Dari petani, ke pengepul yang terdata, hingga pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. Dengan begitu, petani tidak lagi hanya jadi “penonton harga” di tingkat lokal.

“Ketika petani sejahtera, kualitas buah naik. Ketika kualitas naik, pasarnya terbuka. Itu lingkaran yang kami coba bangun,” kata Margareta.

Tiga kisah ini menunjukkan satu pola yang sama dari DBS Foundation: mendanai solusi, bukan simpati.

Dari membuka kesempatan kerja yang lebih setara, memperluas akses layanan kesehatan, sampai menaikkan daya tawar petani, semua dibangun dengan pendekatan berpusat pada manusia dan keberlanjutan.

Singkatnya, DBS Foundation tidak hanya membantu pertumbuhan bisnis. Tapi juga memperluas dampak nyata.

Komitmen itu sejalan dengan arah Bank DBS Indonesia yang ingin melampaui fungsi perbankan. Caranya dengan memberdayakan komunitas, memperkuat inklusi, dan mendorong ekonomi yang manfaatnya dirasakan lebih merata.

Karena pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi paling berarti bukan yang paling cepat. Tapi yang paling banyak mengajak orang ikut di dalamnya. (NVR)

By editor2