JAKARTA, AKURATNEWS.co – Ratusan mahasiswa BEM Universitas Indonesia (UI( turun ke jalan lagi pada Selasa (18/8).
Bundaran HI pun jadi macet. Tapi bagi BEM UI, hak itu bukan apa-apa dibanding “kemacetan” yang sudah 81 tahun mendera republik ini.
“Kepada warga Jakarta, kami mohon maaf atas kemacetan hari ini. Namun ingat: kemacetan lalu lintas ini hanya beberapa jam, sedangkan kemacetan struktural, kemacetan lapangan kerja, dan kemacetan keadilan yang dipaksakan sudah delapan puluh satu tahun dan terus memburuk,” ujar Ketua BEM UI Yatalathof Imawan dalam pernyataan sikapnya.
Aksi bertajuk “Merebut Kemerdekaan” ini sempat molor. Massa yang berangkat dari Depok batal naik 24 bus yang sudah dipesan. Sopir bus mendadak membatalkan.
Sekitar pukul 14.00 WIB massa dihadang untuk mendekati Bundaran HI dan sempat bersitegang dengan polisi. Akhirnya mereka menggelar orasi di Jl MH Thamrin.
BEM UI membuka pernyataan dengan nada menohok. 81 tahun merdeka, tapi menurut mereka kedaulatan sudah digadaikan.
“Negara yang bukan milik penguasa, bukan milik pengusaha, melainkan milik seluruh rakyat. Hari ini, sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?”
Pernyataan BEM UI ini mengarah ke pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Pemerintahan Prabowo-Gibran telah menunjukkan wajah kekuasaan yang gemar berpidato tentang kedaulatan, tapi lupa menegakkannya. Republik yang dijanjikan berdaulat, adil, dan makmur, kini justru direduksi jadi slogan tahunan tanpa substansi. Aparat lebih sibuk mengamankan kekuasaan ketimbang mengamankan hak rakyat untuk didengar,” tegas BEM UI.
Mereka menyebut ada tiga masalah besar: perjanjian dagang yang tunduk ke asing, suara rakyat dibungkam, dan hukum “tajam ke bawah tumpul ke atas”.
“Ini bukan sekadar krisis ekonomi. Ini krisis kedaulatan,” lanjut BEM UI.
Dalam orasinya, BEM UI melontarkan delapan tuntutan ke pemerintah, yakni:
1. Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri
2. Hentikan KKN
3. Wujudkan reforma agraria sejati
4. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
5. Evaluasi total PSN serta hentikan MBG dan KDMP
6. Hentikan pemusatan kekuasaan, pemangkasan TKD, dan kembalikan otonomi daerah
7. Tetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta percepat pemulihan wilayah terdampak bencana
8. Hentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta bubarkan YON TP.
BEM UI juga menyorot lapangan kerja yang langka. Data LPEM FEB UI yang mereka kutip menyebut lulusan S1 banyak bekerja di bawah tingkat pendidikan, dan lulusan Manajemen paling banyak menganggur.
BEM UI menutup pernyataannya dengan ajakan perlawanan. Mereka bilang aksi ini baru permulaan.
“Ini hanya awalan. Mahasiswa, buruh, petani, guru, pedagang, dan seluruh rakyat yang merasa republik ini sedang dikhianati cita-citanya sendiri, mari kita rebut kembali kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan tidak akan diberikan oleh negara setiap tahun lewat upacara. Ia harus dijemput paksa oleh kekuatan rakyat yang bersatu,” tulis BEM UI.
BEM UI juga mewanti-wanti: jika pemerintah tak berbenah, aksi lebih besar akan disiapkan.
Hingga berita ini diturunkan, lalu lintas di sekitar Bundaran HI sudah kembali normal.
Tapi “kemacetan” yang disindir BEM UI, kata mereka, masih panjang dan belum ada ujungnya. (NVR)
