TAPANULI TENGAH, AKURATNEWS.co – Angin sore berembus pelan di kawasan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Selatan.
Di antara deretan hunian sementara yang berdiri seadanya, sebuah bangunan semi permanen tampak berbeda, lebih kokoh, lebih lapang, dan memancarkan harapan baru bagi para pengungsi Tanah Merah.
Di sanalah, Melur Tambunan (38) berdiri dengan mata berkaca-kaca. Perempuan yang sejak November lalu tinggal di tenda darurat itu tak kuasa menyembunyikan rasa syukur saat melihat masjid bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) akhirnya berdiri tegak.
“Terima kasih banyak kepada tim BAZNAS karena sudah mendirikan masjid darurat untuk kami. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu semua,” ucap Melur, Minggu (15/2).
Sejak banjir bandang menerjang Lorong 3, Tanah Merah pada November lalu, puluhan keluarga terpaksa mengungsi ke hunian sementara di Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Dalam satu tenda kecil, delapan kepala keluarga, sekitar 30 jiwa hidup berdesakan. Ruang untuk tidur bercampur dengan ruang makan, ruang anak-anak bermain, bahkan ruang untuk beribadah.
“Kadang sudah wudu, tapi teman lagi tiduran. Tidak enak menyuruh bangun. Akhirnya salatnya ditunda, bahkan sering lewat waktu,” kenang Melur.
Bagi para pengungsi, persoalan ibadah menjadi pergulatan batin tersendiri. Di tengah keterbatasan fisik, mereka tetap berusaha menjaga kewajiban spiritual. Namun ruang yang sempit kerap membuat sajadah harus “mengalah” pada kebutuhan lain.
Memasuki pertengahan Februari, satu kekhawatiran mengemuka: Ramadan akan segera tiba. Warga berharap bisa menjalankan ibadah puasa dan tarawih dengan lebih khusyuk.
Aspirasi itu kemudian disampaikan kepada BAZNAS. Respons datang cepat. Tim bergerak membangun masjid darurat dengan konsep semi permanen mudah dibongkar pasang, tetapi cukup kokoh untuk digunakan dalam jangka waktu yang dibutuhkan.
Bangunan itu kini berdiri sebagai simbol kepedulian. Tak lagi bersujud di sela sempit tenda atau di tanah berdebu, para pengungsi memiliki ruang yang layak untuk beribadah bersama.
“Kami berpikir nanti pas puasa biar ibadahnya khusyuk. Ternyata sekarang langsung jadi. Alhamdulillah, semua orang di sini bersyukur,” ujar Melur.
Masjid darurat itu bukan hanya struktur kayu dan atap seng. Ia menjadi pusat penguat mental dan spiritual bagi warga yang masih memulihkan diri dari trauma banjir.
Di tengah ketidakpastian, kehadirannya menghadirkan ketenangan. Anak-anak kini memiliki tempat belajar mengaji. Para orang tua bisa kembali merasakan kebersamaan dalam salat berjamaah.
Bagi warga Tanah Merah Hutanabolon, Ramadan tahun ini mungkin akan tetap sederhana. Namun kini mereka menyambutnya dengan hati lebih lapang.
Di antara hunian sementara dan sisa-sisa luka bencana, azan akan kembali berkumandang dari bangunan sederhana itu menguatkan keyakinan bahwa harapan selalu punya tempat untuk berdiri. (NVR)
