JAKARTA, AKURATNEWS.co – Film horor terbaru berjudul ‘Lintrik Sang Pemikat’ segera hadir di bioskop tanah air.

Film yang menceritakan psikologis mistis ini menggali sisi gelap tradisi kuno dari budaya Banyuwangi dan disutradarai Irham Acho Bahtiar dan diproduksi Prama Gatra Film bekerja sama dengan Rumah Semut Film.

Kata lintrik sendiri merujuk pada sebuah ilmu pelet perempuan dalam tradisi Jawa, yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural luar biasa.

Uniknya, ilmu ini hanya bisa dijalankan oleh perempuan dan membutuhkan ritual ekstrem yang kerap dilakukan secara rahasia dukun wanita.

Dalam konteks budaya Banyuwangi, lintrik bukan hanya soal asmara, tetapi juga menyangkut kekuasaan, balas dendam, dan hubungan antara dunia nyata dan alam gaib.

“Ini bukan horor yang hanya mengandalkan jump scare, tapi tentang trauma, obsesi, dan kekuatan perempuan dalam konteks spiritual,” ungkap Acho di Jakarta, Kamis (5/6).

Inspirasi film ini berawal dari akhir 2022, ketika produser Asye Siregar menemukan film pendek bertajuk ‘Lintrik: Janakim Series’ karya sineas muda asal Banyuwangi di YouTube.

Tertarik oleh konsep dan akar budayanya, Asye mengajak para pembuat film pendek tersebut untuk terlibat langsung dalam produksi film versi layar lebarnya sebagai konsultan budaya.

“Kami ingin menjaga integritas cerita dan budaya lokal. Kolaborasi ini menjadi bentuk etika berkarya, sekaligus ruang apresiasi bagi talenta daerah,” ujar Asye.

Film ini mengambil lokasi syuting utama di Banyuwangi, termasuk hutan dan desa-desa tradisional, serta beberapa adegan di Jakarta. Keindahan lanskap dan kekayaan budaya lokal tak hanya menjadi latar, tetapi menjadi “ruh” dari keseluruhan cerita.

“Kami juga menggunakan bahasa Osing dalam beberapa adegan untuk menjaga autentisitas dan memberikan pengalaman baru bagi penonton nasional,” jelas Acho.

Film ini turut dibintangi aktor-aktor senior seperti Donny Damara, Yatie Surachman, dan Meisya Amira.

Dari Banyuwangi, turut terlibat pula Mak Temu Misti, maestro tari Gandrung terakhir, serta seniman senior Mas Yon DD.

Menariknya, karakter utama ustaz muda diperankan oleh pendatang baru Teguh Ryder dengan pendekatan karakter yang jauh dari stereotip film horor pada umumnya.

Selama proses syuting yang berlangsung selama 25 hari, tim produksi mengaku mengalami sejumlah kejadian janggal yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Salah satunya terjadi saat pengambilan gambar di kawasan hutan.

“Setiap kali kamera siap merekam, tiba-tiba hujan turun deras. Tapi saat break atau kami istirahat, hujan langsung berhenti. Ini terjadi tiga hari berturut-turut. Akhirnya, kami harus meminta izin secara adat dengan melakukan ritual tertentu agar proses bisa berjalan lancar,” ungkap Acho.

Film ini bercerita tentang Sari (Karina Icha), seorang wanita muda yang mempelajari ilmu lintrik demi mendapatkan kembali cinta pertamanya yang kini telah berkeluarga. Namun obsesinya justru menyeretnya ke dalam pusaran konflik gaib dan konspirasi kelam yang membahayakan jiwanya sendiri.

“Setiap adegan dalam film ini memuat informasi penting. Kalau ada yang dilewatkan, penonton bisa kehilangan makna keseluruhan cerita,” tegas Acho.

Dengan alur cerita yang berlapis dan pendekatan visual yang atmosferik, Lintrik dijanjikan sebagai pengalaman sinematik yang tidak hanya menyeramkan, tetapi juga penuh refleksi budaya dan spiritual.

Dalam budaya Banyuwangi, lintrik merupakan bagian dari ilmu pengasihan yang diwariskan secara lisan dan tertutup dari satu generasi ke generasi lainnya, khususnya di kalangan dukun perempuan.

Ilmu ini memiliki berbagai bentuk ritual yang kompleks, mulai dari penggunaan media pribadi seperti rambut atau darah, hingga mantra-mantra dalam bahasa Osing.

Banyuwangi sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah di Jawa Timur yang masih sangat kuat mempertahankan tradisi spiritual dan mistiknya.

Banyak cerita rakyat tentang dukun lintrik yang bisa mengendalikan pikiran seseorang, bahkan menundukkan orang lain untuk cinta, dendam, atau kekuasaan.

Dengan mengangkat kisah ini ke layar lebar, film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga membuka ruang diskusi baru tentang batas antara budaya, spiritualitas, dan etika dalam kehidupan masyarakat modern. (NVR)

By editor2