JAKARTA, AKURATNEWS.co – Perundingan dalam upya mengakhiri perang antara Iran vs Amerika Serikat  tidak menyertakan Israel.  Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjelang dimulainya kembali persidangan kasus korupsi yang menjerat pemimpin Israel tersebut pada Minggu (12/4/2026).

Dalam pernyataannya melalui unggahan di media sosial, Araghchi mengaitkan proses hukum Netanyahu dengan konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Ia menyebut Netanyahu sengaja menunda gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel agar dapat mengalihkan isu persidangan korupsi itu. Pada sisi lain, gencatan senjata dapat mempercepat proses hukum hingga berujung pada pemenjaraan Netanyahu.

“Persidangan kriminal Netanyahu dimulai kembali pada hari Minggu. Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya,” kata Araghchi, dikutip Jumat (10/4/2026).

Pernyataan keras tersebut muncul di tengah situasi sensitif, mengingat persidangan korupsi Netanyahu yang telah berlangsung sejak 2020 hingga kini belum mencapai putusan akhir.

Netanyahu menghadapi tiga kasus berbeda yang mencakup tuduhan penipuan, penyalahgunaan kepercayaan, serta penerimaan suap. Namun, ia secara konsisten membantah seluruh tuduhan dan menyatakan tidak bersalah.

Pada sisi lain, kritik Araghchi juga beriringan dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Lebanon. Serangan Israel di sejumlah wilayah seperti Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan Lebanon dilaporkan menimbulkan banyak korban.

Meski konflik masih berlangsung, Netanyahu memberi sinyal adanya peluang diplomasi dengan menginstruksikan kabinetnya untuk memulai pembicaraan damai langsung dengan Lebanon. Pembahasan tersebut diperkirakan akan mencakup upaya pelucutan senjata kelompok Hizbullah serta menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan./Ib. Foto: Istimewa.

By Editor1