AKURATNEWS, Jakarta – Raja Ampat, gugusan surga tropis yang terletak di ujung barat Papua Barat Daya, tak sekedar destinasi wisata bahari yang menakjubkan. Ia adalah simbol megabiodiversitas dunia, rumah bagi lebih dari 75% spesies karang yang dikenal secara dunia dan ribuan jenis biota laut lainnya.
The Nature Conservancy dan Conservation International mencatat bahwa kawasan ini memiliki lebih dari 553 spesies terumbu karang serta 1.400 spesies ikan laut terlengkap di dunia. Ini menjadikan Raja Ampat sebagai salah satu destinasi spot diving terbaik di dunia.
Direktur Konservasi Ekosistem, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muh. Firdaus Agung Kunto Kurniawan memaparkan, berdasarkan data sampai dengan tahun 2020, ada lebih dari 27.000 dive site dan 67 persen dive site adalah daerah konservasi, salah satunya Raja Ampat.
Data kegiatan diving tahun 2010-2020, 70 persen penyelaman di kawasan konservasi. “Jadi kalau ada yang rusak, ini berdampak pada kerugian ekonomi. Pemerintah punya kepentingan pada industri – industri yang menggunakan laut yang sehat,” kata Firdaus.
Aji Sularso selaku Pembina dan Penasehat JANGKAR (Jaringan Kapal Rekreasi) mengungkap fakta, di balik keragaman biota laut yang terindah di dunia, Raja Ampat menghadapi ancaman serius praktik destructive fishing, pencemaran laut hingga masalah sampah plastik. Jika dibiarkan ekosistem sensitif seperti terumbu karang, mangrove, dan padang lamun mengalami kerusakan parah. Butuh puluhan tahun lagi mengembalikan seperti semula.

JANGKAR (Jaringan Kapal Rekreasi), dengan dukungan Konservasi Indonesia dan BLUD Raja Ampat, merilis kampanye bertema “Menjaga Konservasi Raja Ampat untuk Generasi Kini dan Mendatang” pada 18 Juni 2025 di Erin Hotel Jakarta Pusat. Kampanye ini mengajak kepada seluruh stakeholder pemerintah, pemda, pelaku usaha pariwisata, masyarakat adat, dan wisatawan turut menjaga kelestarian kawasan konservasi perairan Raja Ampat.
Di dukung lebih dari 90 anggota aktif pemilik kapal Liveboard, JANGKAR berupaya menjadi garda depan menjaga sustainable perairan Raja Ampat, mulai dari memberikan edukasi kepada wisatawan selam hingga pengawasan wilayah konservasi.
“Kami menyadari bahwa menjaga laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. JANGKAR sebagai pelaku industri wisata bahan berkomitmen aktif dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi, dimulai dari hal sederhana seperti praktik pelayaran ramah lingkungan, edukasi wisatawan, hingga pelaporan aktivitas ilegal di laut,” kata Aji Sularso saat menutup kegiatan diskusi.
