MANILA, AKURATNEWS.co – Tiga hari setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,9 mengguncang wilayah utara Cebu, Filipina, upaya penyelamatan resmi dihentikan.

Penghentian pencarian pada Kamis (2/10) menutup harapan menemukan korban selamat, meninggalkan duka mendalam atas sedikitnya 72 orang yang meninggal dunia.

“Kami tidak menemukan korban hilang, jadi kami berasumsi semuanya sudah ditemukan,” ujar Junie Castillo, juru bicara Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana.

Gempa yang terjadi pada Selasa (30/9) malam itu juga menyebabkan hampir 300 orang terluka dan memaksa sekitar 20.000 warga mengungsi. Banyak dari mereka kini bertahan di lapangan terbuka dan pinggir jalan, dihantui kecemasan setiap kali gempa susulan terjadi.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. meninjau langsung reruntuhan di Perumahan Yolanda, kawasan hunian permanen pasca-topan yang ironisnya kembali hancur. Dari lokasi itu, ia mengumumkan alokasi 50 juta peso Filipina dana darurat untuk provinsi, serta 20 juta peso tambahan bagi Kota Bogo, Sogod, dan San Remigio yang terdampak paling parah.

Pemerintah kini fokus pada pemulihan pascabencana. Tim insinyur mulai memeriksa sekolah dan rumah sakit, memberi tanda merah pada bangunan rawan roboh. Prioritas utama adalah menyiapkan tempat tinggal sementara sebelum musim hujan datang, demi mencegah jatuhnya korban baru.

Bagi warga Kota Bogo, getaran mungkin sudah mereda. Namun, perjalanan panjang untuk membangun kembali rasa aman dan kehidupan masih terus berlanjut./Ib.

By Editor1