JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di tengah tren masyarakat metropolitan Jakarta yang rajin menghitung kalori, langkah kaki, hingga screen time, ancaman kesehatan kompleks justru kerap muncul dari kebiasaan sepele sehari-hari.
Menjawab tantangan itu, Stomp & Stride The Marketing Agency berkolaborasi dengan LohGuanLye Specialists Centre, Penang, Malaysia menggelar acara eksklusif “Memahami Kesehatan dari Berbagai Sudut Pandang” pada Sabtu (27/6).
Acara ini mengajak publik bergeser dari pola reaktif mengobati penyakit berat, menjadi proaktif mendengar sinyal kecil tubuh dan melakukan deteksi dini yang akurat.
Dalam kesempatan ini, Dato’ Dr. Lim Seh Guan, pakar THT LohGuanLye Specialists Centre, menyoroti polusi ekstrem di kota besar yang kerap memicu rhinitis dan alergi. Gejala klasiknya: bersin, hidung gatal, dan ingus bening.
Masalah muncul ketika banyak orang mengorek telinga berlebihan untuk meredakan gatal. Tindakan itu justru merusak lapisan lilin pelindung alami telinga.
“Refleks itu bisa memicu malapetaka baru berupa radang telinga akut bernanah yang bengkaknya bisa sampai ke tulang pipi,” tegas Dato’ Dr. Lim Seh Guan.
Ia juga meluruskan mispersepsi soal halitosis atau bau mulut.
“Banyak orang mengira bau mulut selalu dari lambung. Padahal secara klinis umumnya hanya dari empat sumber: sinusitis, sisa makanan membusuk di sela gigi karena tidak flossing lebih dari 6 jam, kebersihan rongga mulut buruk, hingga infeksi paru seperti tuberkulosis,” jelasnya.
Era digital membawa risiko lain. Tingginya durasi paparan layar gawai disebut memicu glaukoma, salah satu penyebab kebutaan tertinggi di dunia. Bahayanya, penyakit ini tumbuh tanpa gejala pada tahap awal.
Dr. Lim Chang Zhen mengingatkan perbedaan krusial saraf mata dengan organ lain.
“Saraf mata tidak punya teknologi implan seperti saraf telinga. Jika saraf mata sudah rusak total, tidak ada alat yang bisa mengembalikan penglihatan,” ujarnya.
Karena itu, skrining rutin pun menjadi kunci.
“Masyarakat urban sering lupa periksa mata. Padahal tonometri, atau skrining tekanan mata, setiap 1-2 tahun adalah satu-satunya cara menyelamatkan penglihatan sebelum terlambat,” tambah Dr. Lim Chang Zhen.
Masuk ke pilar kesehatan perempuan, deteksi dini disebut sebagai garis pertahanan utama melawan silent killer seperti kanker ovarium, serviks, dan rahim.
Dr. Tan Hoo Seong menekankan peran pap smear.
“Menunggu sampai sakit adalah kesalahan besar. Jika kanker terdeteksi di Stadium 1 lewat skrining rutin, tingkat kesembuhannya di atas 90 persen, bahkan hingga 95 persen,” ungkapnya.
“Jadikan pemeriksaan medis sebagai investasi utama untuk melindungi masa depan Anda dan keluarga,” imbuhnya.
Selain kebiasaan harian dan skrining klinis, masyarakat kini didorong naik ke tingkat preventif lebih tinggi: konsultasi genetik.
Ms. Cheah Yee Ling, Genetic Counsellor, menjelaskan metode ini krusial untuk memetakan risiko kanker bawaan keluarga. Contohnya Hereditary Breast and Ovarian Cancer (HBOC) akibat mutasi gen BRCA1 yang bisa meningkatkan risiko kanker payudara hingga 87 persen.
Dengan mengetahui lebih awal, pasien bisa memilih intervensi seperti pembedahan preventif atau targeted therapy.
“Konsultasi genetik kini cukup dengan sapuan pipi atau air liur. Dengan memetakan DNA, kita tidak lagi menebak risiko masa depan. Kita bisa mendeteksi ancaman kanker bawaan, mengantisipasi sindrom langka pada anak, hingga memutus rantai penyakit keturunan,” kata Ms. Cheah Yee Ling.
Stomp & Stride bersama para pakar LohGuanLye Specialists Centre juga menyampaikan pesan kunci: mencegah kerusakan permanen bukan hanya soal cara membersihkan telinga atau mengurangi waktu menatap layar.
“Ini tentang berani melangkah ke layanan preventif modern seperti konsultasi genetik. Dengan gaya hidup sehat, peka pada sinyal tubuh, dan memahami cetak biru biologis diri, masyarakat Jakarta bisa merancang masa tua yang aktif, produktif, dan bebas beban penyakit,” tutup penyelenggara. (NVR)
