JAKARTA, AKURATNEWS.co – Reshuffle Kabinet Merah Putih yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pekan ini membawa kejutan besar.

Kursi Menteri Keuangan yang selama ini diisi Sri Mulyani Indrawati kini resmi ditempati Purbaya Yudhi Sadewa.

Pergantian ini bukan sekadar rotasi, melainkan pergulatan dua filosofi ekonomi: disiplin fiskal ala Sri Mulyani versus optimisme pertumbuhan ala Purbaya.

Sri Mulyani, teknokrat lulusan University of Illinois Urbana-Champaign, selama hampir dua dekade menjadi simbol kredibilitas fiskal Indonesia.

Di mata pasar internasional, ia dipandang sebagai jangkar stabilitas. Bahkan ketika pandemi Covid-19 mengguncang, ia berani ekspansif demi menyelamatkan perekonomian, namun segera menarik kembali rem fiskal ketika badai mulai reda.

Kredibilitas ini yang membuat investor global percaya bahwa Indonesia berbeda dari negara berkembang lain.

Kini tongkat estafet itu berpindah ke tangan Purbaya. Latar belakangnya menarik: insinyur elektro ITB, doktor ekonomi Purdue University, pernah malang-melintang di dunia akademik, sektor swasta, hingga menjadi Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Purbaya bukan figur asing di lingkar kebijakan, namun kehadirannya di Kemenkeu membawa gaya baru, kuantitatif, pragmatis, dan berani mengambil risiko.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen itu bukan mustahil,” ucap Purbaya sehari setelah dilantik, kalimat yang seketika memantik optimisme sekaligus keraguan.

Pernyataan Purbaya jelas kontras dengan Sri Mulyani yang cenderung realistis. Filosofi dasarnya berbeda. Bila Sri Mulyani percaya stabilitas adalah prasyarat pertumbuhan, Purbaya meyakini ekspansi berani bisa memacu pertumbuhan tinggi.

Menurut ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, posisi Menteri Keuangan jauh lebih kompleks ketimbang memimpin LPS.

“LPS dan Kemenkeu itu ibarat futsal dan sepakbola. Beda game, beda tantangan. Purbaya harus hati-hati, jangan overconfidence, harus mau belajar, dan wajib memberi peran besar pada tiga wamenkeu. Kalau tidak, blunder besar bisa terjadi,” ujarnya.

Sementara ekonom Syafruddin Karimi menilai, pergantian ini membuka babak baru kebijakan fiskal Indonesia.

“Sri Mulyani mewariskan disiplin yang dihormati dunia. Tapi Purbaya membawa energi optimisme baru. Pertanyaannya: apakah ia bisa menyatukan ambisi pertumbuhan dengan kredibilitas fiskal?” katanya.

Target pertumbuhan delapan persen sendiri memang bukan perkara mudah. Data Asian Development Bank di 2024 menunjukkan produktivitas tenaga kerja Indonesia masih rendah.

Infrastruktur logistik menjadi hambatan ekspor, basis pajak yang sempit membatasi ruang fiskal, sementara ketidakpastian global akibat perang dagang dan tarif Amerika Serikat terus menekan perdagangan.

Jika ambisi ini dipaksakan tanpa disiplin, risiko besar mengintai: rupiah melemah, yield obligasi naik, arus modal keluar, bahkan potensi krisis kepercayaan di pasar keuangan.

Namun, bila Purbaya mampu meyakinkan pasar bahwa target pertumbuhan tinggi dibarengi reformasi struktural, efisiensi belanja, dan iklim investasi yang kondusif, ia bisa mengubah skeptisisme menjadi optimisme baru.

Tantangan lain justru ada di dalam negeri. Seorang ekonom senior yang enggan disebut namanya mengingatkan:

“Yang dibutuhkan bukan Menkeu yang lebih pintar dari Sri Mulyani, tapi yang berani punya pendirian. Menkeu harus berani berbicara ke Presiden tentang program yang perlu dievaluasi, bahkan jika itu adalah keinginan Presiden. Kalau hanya jadi ‘yes man’, kondisi bisa lebih buruk,” ujarnya.

Pergantian Sri Mulyani ke Purbaya sendiri juga dinilai pasar membawa ketidakpastian baru, terutama karena arah kebijakan fiskal dan rencana anggaran belum sepenuhnya jelas.

Selain itu, pelemahan rupiah yang sudah menembus Rp16.400 per dolar AS ikut menambah tekanan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ditutup melemah tajam pada akhir sesi pertama perdagangan Selasa (9/9), Mengutip RTI Infokom, IHSG terkoreksi 128,59 poin atau 1,66 persen ke level 7.638,25.

Sejak pembukaan, IHSG sebenarnya sempat menyentuh level tertinggi di 7.791, sebelum tertekan hingga menyentuh level terendah 7.624 menjelang penutupan sesi siang. Adapun IHSG dibuka di level 7.748.

Perdagangan sesi 1 tercatat melibatkan 23,13 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp15,07 triliun, melalui 1,57 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut ke Rp13.802 triliun.

Secara sektoral, tercatat 193 saham menguat, 510 saham melemah, dan 100 saham stagnan.

Tekanan jual terlihat cukup dominan dari investor domestik, dengan nilai penjualan Rp13,2 triliun berbanding pembelian Rp13,7 triliun.

Sementara itu, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell). Nilai beli asing tercatat Rp6,5 triliun, sedangkan nilai jual mencapai Rp7 triliun.

Pasca dilantik, Purbaya menyatakan optimistis kondisi ekonomi nasional segera membaik.

“Sekarang ekonomi agak melambat, tapi kita sudah tahu kelemahannya dan akan segera perbaiki. Dua-tiga bulan ke depan, Indonesia akan kembali cerah,” ujar Purbaya di Istana Negara, Senin (8/9).

Ia menyebut, arahan Presiden adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan target ambisius 8 persen.

“Itu tantangan besar, tapi tetap bisa dikejar secara bertahap,” tambahnya.

Menurut Purbaya, perlambatan ekonomi sejak pertengahan tahun belum direspons cepat dan diperburuk unjuk rasa belakangan ini. Namun, gejolak pasar, dari IHSG hingga rupiah diyakininya masih dalam batas wajar dan bisa pulih dalam waktu dekat.

“Dalam seminggu-dua minggu pasti akan balik. Saya lama di pasar, lebih dari 15 tahun. Saya tahu bagaimana memperbaiki ekonomi,” tegasnya.

Meski mengaku deg-degan dengan target tinggi yang dipatok Prabowo, Purbaya menekankan kekuatan permintaan domestik sebagai modal utama pertumbuhan.

“Domestic demand kita kuat, 90 persen. Asal dikelola baik, masa kita takut?” katanya.

Kini publik menunggu: akankah Purbaya menorehkan babak baru dengan membawa Indonesia lepas dari stagnasi pertumbuhan lima persen, atau justru terjebak dalam euforia ambisi yang mengorbankan stabilitas?

Yang jelas, reshuffle kali ini menandai pertarungan filosofi besar. Dari kehati-hatian Sri Mulyani menuju keberanian Purbaya. Masa depan ekonomi Indonesia kini berada di persimpangan jalan. (NVR)

By editor2